Guru di Ujung Tanduk: Antara Tantangan Internal dan Tekanan Eskternal, Opini oleh Nurul Yaqin

Sidkin • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi Guru di Ujung Tanduk: Antara Tantangan Internal dan Tekanan Eskternal. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi Guru di Ujung Tanduk: Antara Tantangan Internal dan Tekanan Eskternal. (Ijal/AI/Halojember)

 

Halojember - Di sebuah ruang kelas yang hening dan hancur, Henry membacakan bait puisi karya Edgar Allan Poe yang berjudul “The Fall of the House of Usher”. Puisi itu menggambarkan sistem pendidikan yang gagal, ruang kelas yang remuk, dan generasi yang kehilangan arah.

Film berjudul “Detachment” besutan Tony Kaye menceritakan seorang guru pengganti, Henry Barthes, yang harus menghadapi lingkaran apatisme dari segala arah. Para guru mengalami depresi berat. Nilai murid anjlok, maraknya perundungan, hingga pelecehan seksual. Ditambah pihak Dinas yang memangkas anggaran dan kepala sekolah yang nyaris dicopot dari jabatannya oleh pejabat distrik.

Meredith adalah salah satu siswi yang jatuh hati dengan kedatangan Henry. Tapi dia jatuh tersungkur kecewa ketika Henry menolaknya dengan halus. Apalagi setelah dia menyaksikan Henry menyerahkan Erica–remaja yang akan dibantu Henry keluar dari dunia malam–ke panti sosial. Hal ini dilakukan ketika penguatan emosi (detachment) Henry runtuh lantaran pergulatan batin antara kehidupan pribadi dengan dunia profesionalnya. Meredith salah sangka, akhirnya dia bunuh diri dengan menegak minum racun di hadapan Henry. Saat itu juga Henry merasa dirinya gagal dan hancur seperti gambaran di paragraf pertama tadi.

Pertanyaannya, berapa banyak guru seperti Henry di negeri ini yang sedang menghadapi kompleksitas problematika dunia pendidikan? Pertanyaan itu muncul manakala pendidikan nasional mengalami turbulensi struktural yang menempatkan profesi guru di persimpangan jalan. Menurut Giroux (1988:122) ketika etika dan kepedulian dilanggar dalam praktik pembelajaran, otoritas moral guru sebagai intelektual transformatif akan runtuh.

Eskalasi kasus yang menimpa guru dan minimnya komitmen pemerintah terhadap kesejahteraan guru menjadi indikator nyata bentuk marjinalisasi terhadap profesi pendidik. Jika kondisi ini diabaikan, tanpa adanya pembenahan sistemik, bukan tidak mungkin profesi guru berpotensi mengalami krisis eksistensial di masa yang akan datang. Guru berada di ujung tanduk.

Krisis Ganda

Tereduksinya realitas guru setidaknya muncul dari dua kondisi krisis. Pertama, krisis internal. Aspek ini muncul dari kasus-kasus yang bersumber dari dalam diri guru itu sendiri seperti insiden kekerasan dan pelecehan. Dua kasus ini kerap melekat pada profesi guru dan terus berkelindan hingga hari ini.

Dalam kasus kekerasan, murid kerap dijadikan sebagai objek pelampiasan amarah guru. Kekerasan terhadap murid di sini bisa berupa kekerasan fisik atau kekerasan verbal. Kasus terpidana Desi Sihombing, guru PAI SD Garoga Sumatera Utara yang menyuruh muridnya untuk saling mencubit antarmurid lantaran tidak hafal Asmaul Husna hingga terjadi 80 kali cubitan terhadap salah satu orang siswa menjadi evaluasi bersama.

Kasus pelecehan seksual oleh oknum guru juga menambah daftar panjang problem guru di negeri ini. Aksi tak manusiawi oleh guru kerap menyisakan guratan trauma bagi kehidupan siswa. Siswa terpuruk, masa depan suram, dan semangat melanjutkan kehidupan terbunuh. Pada titik ini guru telah menjadi penjahat yang telah meluluhlantakkan angan dan mimpi siswa dan meruntuhkan marwah guru itu sendiri.

Di lain sisi, survei yang dirilis oleh Rant Casino yang melibatkan 3.800 responden, profesi guru menempati posisi runner-up dalam kasus perselingkuhan dengan persentase 13,7 persen. Kasus mesum antara kepala sekolah dengan seorang guru di sekolah dasar (SD) Pekalongan yang viral belakangan semakin menegaskan hasil survei tersebut.

Kedua, krisis eksternal, yaitu tekanan lingkungan yang berasal dari luar kendali guru. Salah satu masalah klasik adalah kesejahteraan. Atensi struktural negara terhadap kesejahteraan guru kerapkali terhalang oleh keterbatasan anggaran. Manakala negara tidak memposisikan pendidikan sebagai prioritas, realisasi fiskal di lapangan sering kali berjalan pincang.

Dalam indeks perbandingan global, finansial profesi guru di Indonesia secara konsisten menempati posisi menyedihkan. Bahkan dalam lingkup negara kawasan dan Asia-Tenggara, gaji guru Indonesia jauh tertinggal. Berdasarkan data Numbeo angka gaji Indonesia menempati peringkat ke 7 dari 11 negara ASEAN. 

Di samping itu, pernyataan presiden terkait tidak adanya uang karena kebocoran anggaran untuk peningkatan kesejahteraan guru memunculkan demoralisasi massal. Pernyataan secara blak-blakan oleh pemimpin tertinggi di depan publik tidak hanya menyisakan luka, tapi juga merupakan sinyal masih jauhnya nasib guru dari kata "sejahtera".

Kegaduhan semakin menggema ketika Kemendiktisaintek menyebutkan bahwa profesi keguruan mulai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Statemen blunder ini memperlihatkan secara gamblang bahwa jurusan keguruan tidak lagi dilirik oleh para pemangku kebijakan. Efek domino dari pernyataan ini sangat terasa dari semakin minimnya lulusan siswa SMA/SMK yang berminat untuk kuliah di jurusan pendidikan dan keguruan.

Komitmen Kolektif

Nasib guru adalah cermin jujur dari kondisi pendidikan kita hari ini. Ketika kita membiarkan guru berjalan terseok di antara himpitan ekonomi, konflik pribadi, dan tekanan regulasi, sebenarnya kita sedang mempertontonkan betapa dangkalnya kita menghargai ilmu. Realitas yang menyakitkan dan pernyataan pemerintah yang melukai hati adalah dalil konkret betapa guru tak lagi dihargai.

Menghadapi kondisi demikian, perlu komitmen kolektif dari hulu hingga hilir sehingga marwah guru dapat kembali terbangun. Tak elok rasanya ketika guru hanya mengambinghitamkan pemerintah, sedangkan mereka apatis untuk introspeksi diri. Begitupun pemerintah tidak boleh kebal telinga manakala kebijakannya tak berpihak pada profesi pendidik. Guru harus terus menyepuh jiwa dan memperhalus asa, sedangkan pemangku takhta tak boleh berpaling muka.

Menyelamatkan guru dari ujung tanduk bukanlah sekadar urusan menaikkan angka gaji atau menerbitkan regulasi perlindungan formal. Ini adalah panggilan moral untuk memulihkan kembali rasa hormat kita pada proses menjadi manusia. Sebab, ketika suara pendidik akhirnya bungkam karena takut dan lelah, yang padam bukan hanya martabat sebuah profesi, melainkan cahaya masa depan yang sedang kita titipkan pada jemari mereka. Harapannya tidak ada lagi guru yang merasa gagal dan hancur seperti Henry.

 

*) Penulis adalah guru honorer asal Madura, penulis buku “Dinamika Pendidikan di Zaman Edan”

Editor : Sidkin
guru di ujung tanduk guru tantangan pendidikan