Halojember - Fenomena influenza selama September 2026 ini menjadi topik menarik di beragam unggahan Media sosial (medsos). Mulai dari soal gejala demam, batuk, pilek/hidung tersumbat, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot/sendi, dan tubuh yang melemas. Ribuan follower, bahkan jutaan like para pengguna media sosial juga membenarkan realitas itu. Penulis sendiri juga mendapatkan pesan dari mahasiswa yang tidak masuk kuliah dengan gejala-gejala seperti itu.
Ternyata, tampilan kecemasan di medsos ini, juga diimbangi dengan unggahan beragam platform yang memberikan saran mengatasi masalah tersebut. Misalnya, ketika mengalami gejala ringan perlu istirahat yang cukup, menambah cairan yang masuk dalam tubuh, memakai masker, dan memantau perkembangan kesehatan secara intens. Ketika tidak membaik/berisiko tinggi, maka segera konsultasi dokter/klinik. Dan, jika ada alarm/tanda bahaya, maka segera ke IGD (instalasi gawat darurat).
Lalu lintas pesan yang berisi tentang masalah kesehatan, termasuk kategori kajian komunikasi kesehatan. Yakni, memposisikan gejala/tanda yang ada dalam gerak-gerak tubuh kita (gesture) adalah pesan komunikasi non-verbal yang menjadi tanda-tanda/gejala yang harus diwaspadai. Gejala “Gerak-gerik tubuh yang tidak sehat” tersebut bukan sekadar simbol/tanda, tetapi juga mengandung makna tertentu bahwa kondisi badan sedang menghadapi masalah/gangguan, maka dampaknya (efek) akan berpengaruh pada kognitif (pengetahuan), afektif (sikap/rasa), dan konatif (perilaku komunikasi) pada seseorang yang mengalami kondisi seperti itu. Di antaranya, muncul rasa stress, perasaan cemas, hati galau, dan sikap khawatir yang bisa mempengaruhi kesehatan berpikirnya.
Komunikasi Kesehatan dengan Media Herbal
Di tengah-tengah membanjirnya pesan fenomena influenza, beragam platform media sosial juga menawarkan berbagai alternatif menyikapi masalah gangguan kesehatan itu. Di antaranya, mengingatkan dengan pesan agar netizen memilih beragam jenis sayuran yang akan meningkatkan daya tahan tubuh. Di antaranya, Daun Kelor yang memiliki khasiat tinggi vitamin, mineral dan antioksidan; Labu Siam baik untuk pencernaan dan rendah kalori; Daun Pepaya, membantu meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh; Pare baik untuk gula darah dan kesehatan hati; Daun Ubi Jalar menjadi sumber vitamin A, C, dan zat besi yang baik untuk ketahanan tubuh; Kecipir sumber kaya protein nabati, vitamin, dan mineral; Daun Singkong mengandung zat besi, vitamin, dan serat tinggi yang berguna bagi ketahanan tubuh.
Tak hanya berhenti pada pesan kesehatan yang “bergenre” sayuran, tetapi juga merambah pada buah-buahan. Beragam medsos yang berseliweran di WA juga menyarankan mengkonsumsi jenis buah-buahan dengan narasi khasiat yang dimiliki. Misalnya buah nanas, bawang putih, dan jahe sebagai Pembersih Paru-Paru; buah bit, kunyit, dan wortel sebagai Pembersih Liver; buah mentimun, lemon, dan seledri menjadi Pembersih Ginjal; buah mentimun, apel hijau, dan lidah buaya dapat menjadi Pembersih Usus; buah bit, wortel, dan apel menjadi Pembersih Kulit; buah delima, jahe, dan jeruk menjadi pembersih Darah, dan sebagainya yang berisi pesan yang menyehatkan dan berguna untuk vitalitas tubuh.
Pesan kesehatan ini, menurut penulis yang bukan ahli kesehatan, menjadi menarik untuk disikapi oleh siapa saja yang sedang menghadapi kondisi tubuh sedang tidak fit/lemah dengan gejala influenza maupun gejala serupa lainnya. Sebab, komunikasi kesehatan sejatinya, bukan hanya milik para ahli kesehatan, seperti dokter, perawat, maupun ahli medis lainnya. Tetapi, komunikasi kesehatan memiliki kegunaan universal kepada siapa saja yang ingin tetap sehat di tengah situasi dan kondisi yang memengaruhi tubuh menjadi tidak fit atau down.
Pilihannya, komunikasi kesehatan itu bisa dengan herbal, maupun pilihan kimiawi, dengan konsekuensinya masing-masing. Intinya, komunikasi kesehatan adalah suatu penyebarluasan pesan (message) sehat oleh komunikator (communicator/sender) kepada khalayak (communicant/receiver) agar memiliki dampak (effect) pengetahuan (kognitif), rasa (afektif), dan konatif (tindakan komunikasi) yang mengarahkan pada penjagaan kesehatan sejak dini, saat gejala dialami, maupun pasca gangguan kesehatan.
Membangun Kesadaran Kritis agar Menyehatkan
Kapan kita harus menyadari bahaya gejala yang mengganggu kesehatan seperti influenza? Ini pertanyaan yang selalu muncul dan terkadang baru disadari ketiga gejalanya sudah menyebar. Seperti yang dilaporkan oleh media massa CNN Indonesia melalui media sosialnya @cnnindonesia yang mengungkapkan meningkatnya kasus Influensa A sebagai keturunan dari virus penyebab pandemi pada 2009 lalu.
Virus ini terus beredar secara musiman dan mengalami perubahan genetik. Virus ini menyebar antar-manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti droplet, air liur, atau kontak langsung dengan benda-benda yang terkontaminasi. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus dapat berkembang dengan dua fase. Beberapa gejala yang muncul adalah demam tinggi/menggigil tiba-tiba; batuk, umumnya kering; sakit tenggorokan; bersin, hidung tersumbat, meler; kelelahan; sakit kepala; kehilangan nafsu makan; mual, muntah; nyeri otot dan sendi; diare atau feses encer dalam beberapa kasus.
Bahkan, ccnindonesia (Edisi Sabtu, 19/9/2026) juga menyebutkan gejala yang lebih parah dan bisa memicu komplikasi. Misalnya, demam tinggi yang bertahan dia atas 38 derajat Celsius selama lebih dari satu pekan; pneumonia; sesak napas; detak jantung cepat atau berdebar; hipotensi atau tekanan darah rendah; gagal napas; kejang demam, utamanya pada anak.
Dalam konteks ini, setiap diri perlu mendeteksi lebih dini kondisi tubuhnya melalui berbagai kiat kesehatan yang sebenarnya lazim dilakukan. Termasuk kepada para mahasiswa, komunikasi kesehatan ini juga penulis sampaikan. Di antaranya, menjaga makanan/minuman yang cukup & bergizi, olahraga teratur, istirahat yang cukup, dan antisipasi dari hal-hal yang dapat menyalurkan potensi penyakit. Memakai masker bisa menjadi salah satu ikhtiar untuk menghindari penyebarluasan.
Memilih makanan dan minuman yang menyehatkan bisa menjadi salah satu upaya memperkuat imunitas tubuh, seperti tetap membiasakan sarapan pagi (kalau sedang tidak puasa) sebelum melakukan aktivitas yang padat; memilih makanan dan minuman yang herbal/sehat bisa menjadi pilihan yang memenuhi asupan gizi, dan menghindari konsumsi makanan atau zat-zat adiktif yang mengganggu atau merusak tubuh.
Dan, yang tak kalah pentingnya, adalah mengatur waktu untuk mengistirahatkan tubuh dengan waktu yang berkualitas agar tubuh kembali fit dalam melaksanakan aktivitas. Pesan kesehatan, “lebih baik mencegah daripada mengobati,” penting dijadikan sebagai pesan komunikasi kesehatan dalam suasana menghadapi gangguan kesehatan sebagaimana fenomena yang terjadi pada September 2026 maupun pada waktu yang lainnya!
*) Penulis adalah Kapus Informasi Data & PMB LPM UIN KHAS Jember, Pengajar Psikologi Komunikasi, Pengurus ICMI Orda Jember.
Editor : Sidkin