Pesan-Trend Gontor, untuk Siapa? Opini oleh Aries Harianto

Sidkin • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 07:00 WIB
Aries Harianto, Akademisi FH Unej
Aries Harianto, Akademisi FH Unej

 

Halojember - KH. Hasan Abdullah Sahal (KH HAS) Gontor sontak terkenal. Videonya viral mengundang beragam komentar. Padahal materinya biasa saja, mengalir datar. Tidak frontal dan jauh dari kesan emosional. Pidatonya tidak total tekstual. Diselingi improve dan guyonan nakal mengusik nalar. Kalangan arif bijak memuji. Tamu undangan tersenyum berseri. Sementara KH HAS gaspoll bertutur tiada henti, sembari melepas joke-joke segar bergizi. Konon KH HAS menasihati. Demikian publik mengevaluasi. Seolah KH HAS mendapatkan standing ovation, jika hal ini terjadi di luar negeri. Gelombang apresiasi membingkai KH HAS sebagai tokoh pemberani. 

Keaktoran KH HAS

Sementara orang berpendapat, KH HAS adalah tentara langit. Utusan khusus guna membangun preseden ketika banyak orang silent. Berdiri di panggung ketika khalayak di seantero negeri cemberut murung. KH HAS meledakkan granat tangan. Simbol nasihat kebangsaan dalam konteks keterpurukan. Wajar dan manusiawi. Semua disampaikan sebagai wujud tanggungjawab pondok pesantren guna mengawal peradaban. 

Di negeri ini, apa yang tidak menjadi komoditas politik. Dimasak, digoreng, plus penyedap sana-sini. Diformulasi dengan teknik penyajian estetik untuk dikonsumsi sesuai selera komunitas. Tak heran jika headline KH HAS itu pun menjadi bahan. Dikelola sedemikian rupa. Digunakan sebagai justifikasi untuk mengkritisi. Berkembang menjadi percakapan dua sisi yang berseberangan dengan tema dialektika KH HAS sebagai asas. 

Tidak ada yang salah dalam ranah demokrasi. Realitas tersebut justru patut dirawat dan ditumbuhkembangkan. Di negara demokrasi siapa pun punya hak bertanya dan mempertanyakan dalam relasi dialektik. Dialektika adalah pertengkaran pikiran, bukan permusuhan. Itulah asyiknya demokrasi. Tidak perlu gengsi, apalagi sakit hati. Demokrasi itu fokus pada eksplorasi nalar dengan menegasikan benci. 

Di tengah multipolarisasi pendapat atas kebijakan di negeri ini, KH HAS muncul dengan rasa percaya diri. Tanpa pedang terhunus, apalagi gamis yang bagus. Tidak membangun kesan sangar, jauh dari gestur bar-bar.

Dengan wajah teduh dan bersahabat beliau bicara di panggung Kesyukuran 100 Tahun Gontor. Berpidato di hadapan Presiden secara langsung. Menjalankan peran transformasi nilai. Seolah melebihi Umar bin Khatab ketika menerima pengaduan warga Yahudi. Umar menindaklanjuti aduan. Menggoreskan pedang tajamnya pada tulang onta untuk disampaikan sebagai teguran keras pada Amr Bin Ash. Umar menghendaki agar Gubernur Amr Bin Ash menarik kembali Keputusan Tata Usaha Negara yang hendak menggusur rumah pengadu. Betapa pun rencana penggusuran itu untuk kepentingan perluasan masjid. Gubernur tunduk patuh dan gemetar. Hanya saja, KH HAS tidak mengadu. Tapi meluruskan agar semua persoalan tuntas dengan kearifan. 

Pesan Trend 

Berbeda dengan KH HAS. Beliau menyampaikan langsung di hadapan Presiden. Disaksikan sekitar 8.000 pasang mata di Gedung Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) Gontor. Dihadiri tamu undangan, santri dan alumni. Berikut makna tersimpan sebagai catatan khusus atas apa yang disampaikan. 

Pertama, sebelum mukadimah, dikedepankan salam solidaritas terhadap Palestina. Disampaikan sebagai ekspresi kepedulian Gontor. Diucapkan penuh kesadaran sebagai keinsyafan yang melekat. Palestina adalah ’kita’ dalam ukhwah. Solidaritas yang melintas batas negara sebagai manifestasi kemanusiaan. 

Kedua, KH HAS menegaskan, momentum 100 Tahun Gontor bukan perayaan, tapi peringatan. Peringatan adalah jembatan untuk mengingat. Mendulang nilai-nilai sekaligus menginternalisasi. Term peringatan tak bisa dipisahkan dengan esensi. Peringatan adalah wahana nilai tambah bagi Gontor guna membangun fakta dan sejarah baru. Penguatan kapasitas pribadi santri, alumni dan bangsa ini. Karena itu dalam pidatonya KH HAS kembali menggelorakan jargon Jasmerah. Melalui sejarah, siapa pun dapat belajar dari kesalahan, meneladani kebaikan, mengenal jati diri serta melihat arah masa depan. 

Ketiga, dalam mukadimah sambutannya, KH HAS menyebut ‘Presiden’. Bukan Prabowo. Penyebutan Presiden merupakan relasi Gontor dengan NKRI. Presiden adalah istilah konstitusi. Bukan relasi pribadi yang tidak memiliki relevansi. Gontor memahami, dengan siapa ber-relasi karena Gontor juga memiliki tugas dan tanggungjawab konstitusional mencerdaskan kehidupan bangsa. Memiliki kepentingan-kepentingan untuk diakomodasikan oleh prinsipal utama. Di sinilah disiplin kapasitas dalam istilah menjadi penting untuk dipahami. Penyebutan KH HAS dengan diksi ‘Presiden’ merupakan indikasi bahwa Gontor paham hukum dalam mengeksplorasi tata kelola. Santri Gontor dituntut bebas berekspresi sebagai Hak Asasi, sementara Presiden melekat Kewajiban Asasi untuk menindaklanjuti. 

Keempat, KH HAS juga melansir akronim utak-atik. Gontor, dari Panggon Kotor, kini menjadi Rumah Inspirator. Gontor telah berkontribusi dalam kerangka NKRI. Mencetak kader bangsa pada semua lini sekaligus menjadi alternatif solusi mengurai benang kusut yang terjadi. Gontor terus ber-evolusi. Berkeyakinan secara mandiri tanpa terhisap berbagai kelompok besar yang kini dilanda demam ‘rebutan’. 

Kelima, pernyataan resiprokal KH HAS. Menurutnya, jika Presiden husnuzan, Gontor juga sama merespon. Statement ini sungguh merupakan nilai yang sangat berarti. Jika negara hadir, Gontor pun secara serta merta menjadi air. Mengobati dahaga siapa pun yang ada di negeri ini dan memberikan penghangat bagi siapa pun yang fakir. Seolah Gontor memposisikan diri sebagai subjek hukum setara government yang menyimpan rasa percaya diri bersanding dengan-NYA. Tauhid merasuk ke dalam tulang Gontor. 

Keenam, narasi yang paling spektakuler. KH HAS mengungkap konsep kesederhanaan. Beliau terbuka dan menerima untuk diprotes, dikritisi hingga didemo jika pola hidupnya menampakkan kelebihan di atas rata-rata hidup dan kehidupan santri. Gontor mengajari kebersahajaan. Membuka ruang kritik di tengah upaya menggembleng para santri. Melekatkan pesan implisit bahwa siapa pun, apalagi pejabat tidak boleh bersembunyi dan memusuhi kritik. 

Satu hal dari beragam materi pidatonya yang menohok adalah parodi soal trend mencari. Menurutnya…..’orang tak punya ijazah, akan mencari ijazah; tak punya nama akan mencari nama; tak punya jabatan, akan mencari jabatan, tak punya uang, akan mencari uang; tak punya muka, akan mencari muka. Kalimat terakhir itu ternyata paling diingat orang sebagai Pesan Trend. Untuk siapa pesan itu tertuju ? Wallahu a’lam bishawab. 

 

*) Penulis adalah akademisi FH Unej dan Dewan Pakar ICMI Jatim.

Editor : Sidkin
GONTOR KH Hasan Abdullah Sahal pidato KH Hasan Abdullah Sahal pesantren TREND