HALO JEMBER – Popularitas mobil listrik (EV) kian meroket. Dari perkotaan besar hingga pinggiran kota, kendaraan berbasis baterai ini menjadi simbol masa depan ramah lingkungan.
Namun, di balik citra "hijau" tersebut, muncul pertanyaan mendasar, apakah EV benar-benar ramah lingkungan sepanjang siklus hidupnya?
Produksi: Emisi Besar Justru Dimulai dari Pabrik
Salah satu sisi tersembunyi dari mobil listrik adalah proses produksinya, terutama baterai.
Dibalik tampilannya yang futuristik, pembuatan baterai lithium-ion melibatkan penambangan dan pemrosesan mineral seperti lithium, kobalt, dan nikel, semuanya memerlukan energi dalam jumlah besar dan tidak jarang berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil.
Sebagai gambaran, produksi sebuah baterai untuk EV ukuran sedang bisa menghasilkan emisi karbon yang setara dengan emisi dari kendaraan konvensional selama puluhan ribu kilometer pertama.
Hal ini memicu kekhawatiran bahwa EV sebenarnya “mengganti polusi ekor mobil dengan polusi pabrik”.
Namun, sejumlah pabrikan kini mulai mengalihkan sumber energinya ke energi terbarukan dalam proses produksi. Beberapa perusahaan bahkan berupaya menggunakan bahan baku yang diperoleh secara lebih etis dan berkelanjutan.
Pemakaian: Nol Emisi di Jalan, Tapi Tergantung Sumber Listrik
Di jalan raya, mobil listrik memang unggul karena tidak mengeluarkan asap knalpot, membuat kualitas udara di kota-kota besar membaik.
Tetapi, manfaat lingkungan dari EV tidak berhenti di situ.
Sumber listrik yang digunakan untuk mengisi daya mobil memainkan peran penting.
Jika listrik yang dipakai berasal dari sumber bersih seperti energi surya, atau angin, maka dampaknya terhadap lingkungan akan sangat positif.
Sebaliknya, jika listrik masih berasal dari batu bara, maka jejak karbon EV bisa menyamai, atau bahkan melebihi, mobil berbahan bakar bensin.
Indonesia, misalnya, masih mengandalkan batu bara untuk pembangkit listrik. Namun, program transisi energi bersih yang digalakkan pemerintah menunjukkan arah positif untuk masa depan mobilitas hijau yang sesungguhnya.
Daur Ulang: Tantangan dan Peluang Ekonomi
Baterai EV tidak bisa digunakan selamanya. Setelah mencapai batas umur pakai sekitar 8 hingga 15 tahun, baterai harus diproses ulang.
Ini adalah tahap kritis untuk memastikan bahwa EV tidak berakhir menjadi limbah elektronik berbahaya.
Kabar baiknya, teknologi daur ulang baterai telah berkembang pesat.
Beberapa perusahaan kini mampu mengekstraksi kembali hingga 95% logam penting seperti lithium dan kobalt dari baterai bekas.
Bahan-bahan ini kemudian bisa digunakan untuk memproduksi baterai baru, mengurangi ketergantungan pada tambang baru yang berdampak besar terhadap lingkungan.
Namun demikian, proses daur ulang masih menghadapi tantangan biaya, logistik, dan regulasi.
Infrastruktur daur ulang di Indonesia masih terbatas, dan masih diperlukan dukungan dari kebijakan pemerintah untuk mempercepat perkembangan sektor ini.
Mobil listrik bukanlah solusi sempurna untuk krisis iklim, tetapi langkah ke arah yang lebih baik dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
Jika kita menilai berdasarkan keseluruhan siklus hidupnya, EV tetap memiliki keunggulan lingkungan terutama jika didukung oleh transisi energi bersih dan sistem daur ulang yang mumpuni.*
Penulis : MG25 Vikriansyah
Editor : Sidkin