HALO JEMBER - Mobil listrik terus mencuri perhatian sebagai alternatif kendaraan masa depan.
Selain dianggap ramah lingkungan, mobil berbasis baterai ini juga diklaim lebih hemat dalam jangka panjang.
Benarkah mobil listrik lebih bersahabat terhadap pengeluaran dibandingkan mobil bermesin konvensional jika sudah berusia 5 tahun?
Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dilihat gambaran utuh dari total biaya kepemilikan selama lima tahun. Yakni mulai dari harga beli, pajak, servis, hingga pengeluaran energi harian.
Jadi, tidak hanya angka di showroom yang penting, tapi juga berapa banyak yang harus Anda keluarkan setelah kunci diserahkan.
Harga Awal
Secara umum, harga mobil listrik memang masih lebih tinggi dibandingkan mobil bermesin bensin.
Contohnya, Wuling Air EV atau BYD Dolphin dijual mulai dari Rp250–400 jutaan.
Sementara itu, mobil bensin seperti Honda Brio atau Toyota Agya bisa didapat dengan harga Rp170–250 jutaan.
Namun, bagi pembeli yang memikirkan jangka panjang, perbedaan harga ini bisa dikompensasi oleh efisiensi biaya lain.
Pemerintah juga memberikan berbagai insentif, sehingga sebagian beban harga awal dapat terpangkas.
Pajak dan Insentif
Salah satu keunggulan terbesar mobil listrik saat ini adalah keringanan pajak.
Beberapa daerah seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Bali memberikan diskon pajak kendaraan bermotor hingga 90% untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).
Sebagai ilustrasi, mobil bensin senilai Rp300 juta bisa dikenai pajak tahunan Rp3–4 juta.
Sementara EV dengan nilai serupa bisa cukup membayar Rp300–500 ribu.
Dalam lima tahun, penghematan bisa mencapai puluhan juta rupiah hanya dari sisi pajak.
Servis dan Perawatan
Mesin mobil listrik terdiri dari komponen yang jauh lebih sederhana dibandingkan mesin bensin.
Tanpa kebutuhan oli mesin, busi, atau transmisi rumit, biaya servisnya pun lebih hemat.
Produsen seperti Hyundai dan Wuling mengklaim bahwa pemilik mobil listrik dapat menghemat hingga 50% dalam biaya servis selama lima tahun.
Jika biaya perawatan mobil bensin bisa mencapai Rp25 juta dalam periode tersebut, maka EV hanya menghabiskan sekitar Rp10–12 juta.
Baca Juga: Sinyal Honda Luncurkan Mobil Listrik di Jatim
Konsumsi Energi
Dari sisi bahan bakar, mobil listrik jelas unggul dalam efisiensi. Untuk menempuh 1.000 km, mobil bensin membutuhkan sekitar 100 liter bensin (dengan konsumsi 10 km/liter), atau setara Rp1,3 juta jika harga per liter Rp13.000.
Di sisi lain, mobil listrik seperti Wuling Air EV hanya memerlukan sekitar 120 kWh untuk jarak serupa.
Dengan tarif listrik Rp1.500 per kWh, biaya energi hanya sekitar Rp180 ribu per 1.000 km.
Dalam lima tahun, perbedaan pengeluaran untuk energi bisa mencapai Rp50 juta atau lebih.
Mobil listrik bukan hanya soal penghematan uang, tetapi juga kenyamanan jangka panjang dan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih bersih.
Biaya operasionalnya rendah, servis lebih simpel, dan insentif pajak membuatnya kian menarik.*
Penulis : MG25 Vikriansyah
Editor : Sidkin