Halojember - Kebijakan libur Lebaran yang diterapkan Badan Gizi Nasional (BGN) mendadak menjadi sorotan. Pasalnya, penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama periode tersebut disebut mampu menghemat anggaran negara hingga Rp5 triliun.
BGN diketahui tidak menyalurkan program MBG untuk siswa sekolah selama periode libur Lebaran, tepatnya pada 18 hingga 24 Maret 2026.
Kebijakan ini awalnya dilakukan untuk menyesuaikan dengan libur sekolah dan cuti bersama Idul Fitri. Namun di balik itu, muncul fakta bahwa penghentian distribusi dalam beberapa hari tersebut berdampak signifikan terhadap efisiensi anggaran.
Jika dihitung, program MBG yang berjalan setiap hari memang menyerap anggaran besar. Dengan dihentikannya distribusi selama sekitar satu pekan, biaya bahan baku makanan, distribusi, hingga operasional dapur otomatis ikut ditekan.
Namun demikian, tidak semua komponen biaya benar-benar berhenti.
BGN sebelumnya menegaskan bahwa sebagian biaya operasional tetap berjalan, termasuk kesiapsiagaan fasilitas dan tenaga kerja di lapangan.
Artinya, meski distribusi makanan dihentikan sementara, sistem pendukung program tetap dipertahankan agar bisa langsung kembali berjalan setelah libur selesai.
Selain itu, BGN juga menerapkan skema khusus sebelum masa libur. Penyaluran makanan dilakukan lebih awal dalam bentuk paket untuk beberapa hari sekaligus, meski dengan batas konsumsi tertentu.
Kebijakan ini diambil agar penerima manfaat tetap mendapatkan asupan gizi, meski tidak ada distribusi harian selama libur.
Di sisi lain, tidak semua kelompok penerima manfaat mengalami penghentian layanan.
BGN memastikan program MBG tetap berjalan untuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita selama periode Lebaran.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan libur hanya berlaku untuk sebagian sasaran, terutama peserta didik yang mengikuti kalender sekolah.
Meski disebut mampu menghemat hingga Rp5 triliun, kebijakan ini tetap memunculkan perdebatan di publik.
Di satu sisi, efisiensi anggaran dianggap sebagai hal positif dalam pengelolaan keuangan negara.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai besarnya biaya operasional program MBG dalam kondisi normal, mengingat hanya dalam hitungan hari saja anggaran yang “dihemat” sudah mencapai triliunan rupiah.
BGN sendiri menegaskan bahwa seluruh kebijakan yang diambil tetap mengacu pada keberlangsungan program dan kebutuhan penerima manfaat.
Setelah masa libur Lebaran berakhir, distribusi MBG dipastikan kembali berjalan normal sesuai jadwal.
Fenomena ini sekaligus membuka gambaran besarnya skala anggaran program MBG secara nasional, yang dalam satu periode libur saja bisa menyentuh angka triliunan rupiah.
Editor : Yulio Faruq Akhmadi