Halo Jember - Bupati Jember Muhammad Fawait membongkar praktik manipulasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) di wilayahnya.
Ia mendapati warisan mengejutkan berupa 2.300 gedung sekolah dalam kondisi rusak berat yang selama ini tidak dilaporkan apa adanya oleh pihak sekolah.
Ia bahkan meminta kejujuran kepala sekolah (Kepsek) agar menyudahi melakukan praktek-praktek pembohongan data.
Manipulasi data ini disinyalir sengaja dilakukan demi mengejar status akreditasi sekolah.
"Saya kaget, kita dapat warisan hampir 2.300 gedung sekolah rusak berat. Kalau kita pakai APBD Jember, kekuatan fiskal kita tidak akan cukup selama lima tahun," katanya, saat kesempatan melantik 734 kepala sekolah, di Aula SMPN 7 Jember, pekan lalu (23/5).
Gus Fawait, sapaan dia, mengungkapkan minimnya bantuan renovasi dari pemerintah pusat yang selama ini hanya berkisar Rp5–6 miliar per tahun terjadi karena data yang dikirim ke pusat telah dipercantik.
Pihak sekolah kerap menyembunyikan kondisi riil infrastruktur mereka agar terlihat ideal di mata tim akreditasi.
"Kami tanya ke pusat, kenapa kabupaten kami ini sumbangannya sedikit?" Tanya Fawait dihdapan Para kepsek.
Baca Juga: Pemkab Jember Targetkan Pelayanan Publik Tanpa Kasta, Gus Fawait Turun Langsung Cek Pelayanan di MPP
"Salah satunya karena di Dapodik tidak dilaporkan yang sesungguhnya, hanya demi akreditasi. Kalau memang rusak berat, jangan dibilang bagus. Kalau tidak punya lab komputer, jangan dapur dibuat lab komputer," lanjutnya.
Mengantisipasi jatuhnya korban akibat ambruknya bangunan, ia memerintahkan Dinas Pendidikan untuk menyisir ulang data riil di lapangan tanpa ada yang ditutupi.
Ia menegaskan tidak ingin ada kasus sekolah ambruk yang baru menjadi perhatian setelah viral di media sosial.
"Saya minta beri data yang rill terkait kondisi sekolah hari ini seperti apa. Dan saya ingin panjenengan jadi manusia yang jujur, kalau tidak jujur, efeknya banyak," pungkas dia. (mau/nur/yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi