HALOJEMBER – Kebijakan diplomasi luar negeri Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik.
Kritik keras datang dari komunitas hubungan internasional dan masyarakat yang mempertanyakan urgensi serta efisiensi anggaran dari tingginya frekuensi perjalanan dinas Kepala Negara ke berbagai negara.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengungkapkan keprihatinannya melalui sebuah video yang viral di media sosial.
Baca Juga: Sukses di Prancis, Presiden Prabowo Bawa Pulang Investasi dan Kerja Sama Rp 61,25 Triliun
Berdasarkan catatannya, rata-rata satu dari enam hari masa jabatan Presiden Prabowo dihabiskan di luar negeri.
Angka ini dinilai tidak lazim dibandingkan pemimpin negara lain dan berpotensi memicu persepsi pemborosan anggaran di saat kondisi ekonomi domestik sedang menantang.
Dino menyarankan lima poin perbaikan bagi diplomasi presiden:
Baca Juga: Prancis Jadi Pelopor Dukung Palestina di Eropa, Presiden Prabowo Sampaikan Apresiasi Mendalam
· Mengganti sebagian kunjungan fisik dengan komunikasi virtual atau telepon.
· Memaksimalkan forum internasional untuk pertemuan bilateral massal (formula 1+8).
· Meningkatkan transparansi dan mengumumkan rencana kunjungan jauh-jauh hari.
· Lebih banyak menerima tamu negara di dalam negeri daripada bepergian.
· Melimpahkan misi diplomatik taktis kepada Menteri Luar Negeri guna menghemat anggaran.
Selain itu, Connie Rahakundini Bakrie, Pakar Hubungan Internasional & Militer memberikan kritikan tajam dari perspektif pembagian kerja diplomasi:
Ia menegaskan bahwa urusan diplomasi taktis sehari-hari seharusnya didelegasikan penuh kepada korps diplomatik profesional di bawah Kementerian Luar Negeri.
Connie mengingatkan bahwa Indonesia memiliki Menteri Luar Negeri (Sugiono) beserta jajaran duta besar yang digaji untuk melakukan negosiasi tersebut, sehingga tidak semua agenda membutuhkan kehadiran fisik Presiden.
Ia juga mengunggah sindiran di media sosial yang membandingkan kontrasnya anggaran kunker luar negeri sebesar Rp20 miliar per hari dengan potret kemiskinan sebagian anak sekolah di dalam negeri.
Editor : Hariri HJ