SUMBERSARI, Halo Jember - Selama bertahun-tahun Jember luput dari radar program prioritas pariwisata nasional. Di saat kabupaten tetangga telah mendulang atensi dari pemerintah pusat, Jember harus puas menjadi penonton lantaran ego sektoral masa lalu.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengaku absennya Jember menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) pemerintah pusat, dari Kementerian Pariwisata maupun Bappenas, merupakan imbas dari penyusunan program masa lalu dan kebuntuan komunikasi elite politik lokal.
"Ketidakkompakan eksekutif legislatif juga berdampak; program prioritas pusat kita ndak ada. Tol enggak masuk, bandara tetap seperti itu, pariwisata kita enggak masuk prioritas," gerutunya, usai rapat paripurna pengesahan Perda, di DPRD Jember, (27/6).
Berbeda dengan kabupaten tetangga, pemerintah pusat telah lama menetapkan sebagai KSPN. Seperti Bromo Tengger Semeru Lumajang, Taman Nasional Baluran Situbondo, hingga Ijen Geopark Bondowoso.
Jember hanya menjadi transit, bukan destinasi. Itu terlihat dari angkutan KSPN Kemenhub, menghubungkan Terminal Tawangalun Jember - Kawah Ijen, PP.
Meski enggan menyalahkan masa lalu, Gus Fawait merasa Jember harus mengejar ketertinggalan itu.
"Karena itu kami sering ke Jakarta, termasuk melobi Bappenas dan Kementerian Pariwisata. Sekarang sedang proses itu, untuk memasukkan Jember," katanya.
Ia meyakini, topografi Jember dari pantai sampai pegunungan, sangat layak masuk dalam cetak biru program prioritas nasional. Ia juga meminta dukungan legislatif untuk ikut mengawal ke Jakarta.
"Kami juga mengajak anggota DPRD mendukung ini. Mudah-mudahan bisa cepat masuk program prioritas nasional, sehingga akan banyak program pariwisata nasional yang masuk ke Jember," pungkasnya. (mau/nur)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi