Tekan Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jember, Begini Strategi Dispendik

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:27 WIB
DIBEKALI: Para peserta mengikuti Bimtek Peningkatan Kompetensi Tutor PKBM sebagai upaya penuntasan ATS di Jember.(DISPENDIK JEMBER)
DIBEKALI: Para peserta mengikuti Bimtek Peningkatan Kompetensi Tutor PKBM sebagai upaya penuntasan ATS di Jember.(DISPENDIK JEMBER)

Halo Jember - Membuka kembali pintu pendidikan bagi anak-anak yang terhenti di tengah jalan tidak cukup hanya dengan mengajak mereka kembali belajar.

Ada tantangan lain yang tak kalah penting, yakni memastikan mereka mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Karena itu, peningkatan kompetensi tutor di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi salah satu langkah penting dalam upaya menekan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jember.

Upaya tersebut dilakukan melalui Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Tutor PKBM dalam Implementasi Keterampilan Vokasi sebagai Upaya Penuntasan Anak Tidak Sekolah di Jember.

Kegiatan diikuti puluhan tutor dari 29 PKBM.

Baca Juga: Ada Celah 9.815 Bansos Tak Terserap, Pemkab Jember Desak Kemensos Tuntas Sekaligus

“Ini akan menjadi ruang bagi para tutor untuk memperluas wawasan sekaligus bertukar pengalaman dalam mendampingi warga belajar.

 Pembelajaran di PKBM didorong agar tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi juga memberi bekal yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Plt Kepala Dinas Pendidikan Jember Nurul Hafid Yasin.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena anak yang tidak sekolah memiliki latar belakang dan kebutuhan yang beragam.

Ada yang membutuhkan penguatan akademik untuk kembali mengejar ketertinggalan, sementara sebagian lainnya membutuhkan keterampilan praktis yang lebih dekat dengan minat dan kehidupan mereka.

Melalui keterampilan vokasi, proses belajar diharapkan menjadi lebih relevan sehingga warga belajar memiliki bekal untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, maupun membangun kemandirian.

Di titik inilah tutor memegang peran penting. Tutor tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga perlu memahami potensi, kondisi, serta kebutuhan setiap warga belajar yang mereka dampingi.

“Peningkatan kompetensi tutor pun menjadi bagian penting agar PKBM mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih fleksibel dan tidak membuat anak kembali kehilangan minat untuk belajar,” terangnya. 

Hafid Yasin menyampaikan, penguatan kemampuan tutor menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan pendidikan nonformal.

PKBM dinilai memiliki peran penting dalam memberikan kesempatan belajar kepada masyarakat melanjutkan pendidikan formal.

“PKBM berperan penting dalam memberikan kesempatan belajar, termasuk anak-anak yang belum mendapatkan atau tidak melanjutkan pendidikan formal. Karena itu, kompetensi tutor harus terus diperkuat agar pembelajaran yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga belajar,” katanya.

Penguatan kompetensi tersebut sekaligus diarahkan agar pendidikan di PKBM tidak berhenti pada urusan ijazah.

Warga belajar diharapkan memperoleh keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi bekal menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. 

“Kami ingin pendidikan tidak soal memperoleh ijazah. Anak-anak juga harus mendapatkan bekal keterampilan yang dapat menjadi bagian dari masa depan mereka.

Melalui PKBM, kami berupaya menghadirkan layanan pendidikan yang lebih dekat, fleksibel, dan memberikan manfaat nyata,” pungkasnya. (kin/dwi)

 

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
ATS Tidak Sekola dispendik