SUMBERSARI, Radar Jember - Pemkab Jember tengah menyiapkan strategi mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih mengendap di papan bawah Jawa Timur.
Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan, angka IPM daerahnya tidak akan mengalami lompatan signifikan tanpa intervensi kebijakan yang drastis dan out of the box.
Menurut dia, dari tiga indikator utama pembentuk IPM—ekonomi, kesehatan, dan pendidikan—sektor rata-rata lama sekolah (RLS) menjadi tantangan paling berat sekaligus mahal jika hanya mengandalkan pembangunan fisik sekolah baru.
Sasaran utama pendongkrak RLS tersebut adalah kelompok masyarakat berusia 25 tahun ke atas yang putus sekolah.
“IPM kita tidak bisa naik kalau kita tidak bikin kebijakan yang drastis, out of the box.
Baca Juga: Sejumlah Pos Jabatan Masih Diisi Plt, Pemkab Jember Bakal Lelang Jabatan di Akhir Tahun
Kunci IPM itu pertumbuhan ekonomi sudah kita dorong, kesehatan sudah bagus, tinggal rata-rata lama sekolah. Kalau kita bangun gedung sekolah sendiri, mahal dan belum tentu berhasil,” katanya, saat rapat paripurna PAPBD 2026, (14/9).
Untuk menguji keampuhan strategi itu, Pemkab akan menyinergikan program pendidikan nonformal Kejar Paket A, B, dan C langsung ke kantong-kantong kegiatan masyarakat, seperti majelis taklim, majelis salawat, dan majelis zikir rutin.
Gus Fawait, sapaan dia, menyatakan pemerintah daerah berencana mendata warga yang tidak menamatkan jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Guna menggenjot partisipasi, Pemkab menyiapkan insentif khusus bagi warga yang bersedia mengikuti program Kejar Paket di sela-sela kegiatan keagamaan tersebut.
Ia mengkalkulasikan, jika setidaknya 50 ribu hingga 100 ribu warga putus sekolah berhasil diserap ke dalam sistem pendataan pendidikan ini, posisi IPM Jember diproyeksikan merangkak naik dan lepas dari deretan lima daerah terendah di Jawa Timur.
“Begitu mereka masuk sistem dan mendaftar saja, IPM kita paling segera keluar dari lima besar terendah di Provinsi Jawa Timur,” pungkas Gus Fawait, optimistis. (mau/nur)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi