Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Sego Jagung, Cerminan Kehidupan Masyarakat Desa Lumajang

Harry Erje • Rabu, 15 April 2026 | 19:39 WIB
Ilustrasi AI Sego Jagung Lumajang
Ilustrasi AI Sego Jagung Lumajang

Halojember - Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat modern, sego jagung masih bertahan sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat pedesaan di Lumajang.

Makanan ini tidak hanya sekadar pengganti nasi putih, tetapi juga menjadi simbol dari sejarah panjang kehidupan agraris yang lekat dengan kesederhanaan dan kemandirian pangan.

Di sejumlah warung tradisional hingga dapur rumah warga, Sego Jagung Lumajang masih disajikan sebagai menu utama.

Campuran antara beras dan jagung menghasilkan tekstur yang lebih kasar dengan cita rasa khas yang tidak ditemukan pada nasi putih biasa. Biasanya, hidangan ini dilengkapi dengan lauk sederhana seperti tempe, tahu, ikan asin, serta sambal yang pedas menggugah selera.

Bagi masyarakat desa, sego jagung bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas. Dahulu, konsumsi jagung sebagai campuran nasi dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi alam dan ekonomi.

Jagung yang lebih mudah ditanam dan tahan terhadap cuaca menjadikannya alternatif utama saat beras sulit didapat.

Meski kini akses terhadap beras semakin mudah, sego jagung tetap memiliki tempat tersendiri.

Beberapa warga bahkan sengaja mempertahankan kebiasaan ini sebagai bentuk pelestarian tradisi sekaligus pilihan gaya hidup yang dianggap lebih sehat dan mengenyangkan.

Pak Karto (60), seorang warga desa, mengaku sudah mengonsumsi makanan ini sejak kecil. Baginya, sego jagung bukan hanya soal rasa, tetapi juga kenangan akan masa lalu.

“Dulu ini makanan sehari-hari. Sekarang masih saya cari,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah arus modernisasi, makanan tradisional seperti sego jagung tidak serta-merta ditinggalkan.

Justru, ia menjadi pengingat akan akar kehidupan masyarakat desa—tentang kesederhanaan, ketahanan, dan cara hidup yang selaras dengan alam.

Editor : Harry Erje
#Makanan Khas Idul Fitri #berita lumajang #kuliner #lumajang