Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Porang vs Singkong dan Kentang, Perbandingan Keuntungan dan Prospek Budidaya di Jawa Timur

Hariri HJ • Selasa, 19 Mei 2026 | 17:30 WIB
Perbedaan gambar kentang, singkong, dan porang. (Brillian Abdillah/ai)
Perbedaan gambar kentang, singkong, dan porang. (Brillian Abdillah/ai)

HALOJEMBER – Ada yang mengatakan, memilih komoditas pertanian itu seperti memilih pasangan hidup. 

Ada yang menjanjikan cuan besar tapi penuh drama dan pasang surut, ada yang setia tapi keuntungannya biasa-biasa saja, dan ada pula yang romantis dengan prospek ekspor ke luar negeri.

Komoditas pertanian seperti singkong, kentang, dan porang adalah komoditas yang pernah dan sering menjadi pebincangan di kalangan petani di Jawa Timur. 

Baca Juga: Tips Daftar Registrasi Lahan Porang di Jember Agar Dapat Bantuan Pemerintah

Ketiga umbi-umbian yang sering dikaitkan sebagai alternatif nasi ini, memiliki sentra produksi yang cukup besar di lahan Jawa Timur.

Sama-sama Komoditas Unggulan Jatim di Pangsa Pasar Berbeda

Porang, singkong, dan kentang adalah tiga komoditas yang sama-sama memiliki sentra produksi besar di Jawa Timur, meski target pasarnya berbeda

Baca Juga: Tips Memilih Beras Porang Asli yang Bagus dan Tidak Palsu, Begini Caranya Jangan Sampai Salah

Mana yang Paling Mudah Dibudidaya

Porang : jika dibandingkan komoditas lain, tingkat kesulitan budidaya porang masih termasuk mudah, bahkan tanaman ini cukup ditanam sekali dan bisa dipanen berulang.

Selain pilihan lahan yang fleksibel porang juga perawatan porang juga termasuk mudah, karena tidak mudah terserang hama dan penyakit.

Singkong : Jika berbicara mudahnya budidaya, singkong memang tidak bisa diragukan lagi, Tanaman ini tidak memerlukan perawatan rumit, minim perawatan, dan tidak butuh banyak air.

Kentang : jika dibandingkan singkon dan porang, tingkat kesulitan tanam kentang dapat dikatakan paling rumit, budidaya kentang memerlukan perawatan mulai dari pemupukan susulan, pembumbunan, pemasangan ajir, penyiangan, pemangkasan, pengendalian hama/penyakit, serta pengairan yang teratur.

Prospek Pasar

Prospek pasar porang memang besar, terutama untuk bidang ekspor.

Peluang ekspor ini bisa dibilang cukup cerah hingga saat ini, bagaimana tidak, jika dilansir dari IDNtimesjateng, menurut Kepala Baratin Jateng pada triwulan I tahun 2025, serpih porang dari Jawa Tengah saja meningkat 82,65% dibanding periode yang sama tahun 2024.

Baca Juga: Porang, Spesial Makanan Rendah Karbo dan Bebas Gluten yang jadi Tren Tahun 2026

Pasar utama untuk ekspor porang ini berupa : China, Vietnam, Jepang, Thailand, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan.

Sedangkan untuk singkong, prospek pasarnya cenderung stabil tetapi tidak seganas porang dan kentang, Pemerintah menjamin pasar melalui program E10 (bahan bakar nabati) yang diyakini bisa menyerap hasil panen petani.

Untuk kentang, prospek pasar lebih stabil karena menjadi komoditas sayuran pokok, namun kentang menghadapi tantangan dari produk impor dan fluktuasi harga yang cukup tajam antar daerah dan musim.

Hitungan Keuntungan

Jika kita melakukan hitungan kasar, 

Potensi panen porang adalah 20-40 ton/hektar dan harga jual sekitar Rp9.000 - Rp25.000 per kg (umbi segar) tergantung wilayah dan kualitas panen

Potensi panen singkong adalah 15-20 ton/hektar hingga 30 ton/hektar untuk varietas unggul, dengan harga jual Rp1.350/kg (harga patokan pemerintah), sebagaimana yang ditetapkan Keputusan Menteri Pertanian (Mentan) pada tahun 2025 silam.

Sedangkan untuk kentang, potensi per-panen adalah 15-20 ton/hektar (rata-rata) hingga 35 ton/hektar (optimal), dengan harga jual Rp14.000 - Rp15.000 per kg di tingkat Pasar tradisional Jawa Timur (harga di tingkat petani tentu lebih rendah)

Risiko dan Tantangan

Untuk porang, risiko terbesar yang pernah muncul adalah fluktuasi harga ekstrem, sebagaimana pada tahun 2020-2021 lalu, dimana harga porang sempat melonjak tinggi karena permintaan ekspor yang besar, namun, sempat turun tajam akibat overproduksi dan pembatasan ekspor di negara tujuan.

Baca Juga: Ini Oleh-Oleh Khas Jember Berbahan Singkong yang Wajib Dibawa Pulang

Selain itu, kebijakan pemerintah seperti pelarangan ekspor bibit porang harus diantisipasi.

Sedangkan untuk Singkong, risiko utama adalah harga yang tidak stabil dan praktik "rafaksi" (pemotongan) yang merugikan petani.

Dimana harga jual di tingkat petani bisa hanya Rp700/kg setelah dipotong berbagai biaya.

Lain lagi untuk kentang, Risiko paling besar adalah resiko kerusakan pasca panen. 

Kentang tidak bisa disimpan lama di suhu ruang dan sangat bergantung pada cool storage, sehingga penyimpanan atau perawatan yang kurang mampu dapat merubah keuntungan menjadi kerugian. 

Lantas prospek apa yang bagus untuk saat ini ?

Yang jelas, apapun pilihan Anda, jangan lupa untuk terus update informasi pasar, bergabung dengan kelompok tani, dan selalu professional dalam mengelola pertanian. (mg4)

Editor : Hariri HJ
#Porang vs Singkong dan Kentang #komoditas unggulan #Perbandingan Keuntungan dan Prospek Budidaya #China Jepang Vietnam #jawa timur