Buuzzz... Suara motor yang dikendarai Novia Kristianti dan Atika memecah dinginnya udara pagi. Jarum jam bahkan belum lama melewati waktu Subuh saat dua anak muda itu melaju menuju wilayah selatan Kabupaten Jember.
Pagi itu tidak ada waktu untuk bersantai. Telepon yang berdering dan notifikasi WhatsApp yang terus bermunculan sama sekali tidak mereka hiraukan.
Fokus mereka hanya satu. Mengejar matahari terbit di Pantai Papuma.
Baca Juga: Bupati Jember Fawait Sebut Pesona Pantai Papuma Tak Kalah dengan Raja Ampat
"Kalau mau dapat sunrise, habis Subuh itu langsung cus wes ke Papuma," ujar Novia sambil mengenang perjalanan paginya.
Motor terus melaju membelah jalanan yang masih lengang. Semakin mendekati kawasan wisata Pantai Papuma, langit masih tampak gelap. Sesampainya di pintu masuk Papuma, suasana masih sunyi dan minim cahaya.
"Aku sampai Papuma itu masih gelap wes. Mending begitu, jadi enak, nggak keburu-buru," katanya.
Baca Juga: Asyik Main TikTok, Ibu Ini Tak Sadar 3 Anaknya Terseret Ombak di Pantai Puger Jember
Bagi Novia, menikmati Papuma saat fajar memiliki sensasi tersendiri. Udara sejuk, suara deburan ombak, dan perlahan munculnya cahaya keemasan dari ufuk timur menjadi perpaduan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Menurutnya, panorama matahari terbit di Papuma jauh lebih menarik dibandingkan saat matahari tenggelam.
"Kalau sunset-nya, mataharinya terbenam di balik bukit sebelah kanan pantai, jadi nggak asyik," tuturnya.
Tak heran jika banyak wisatawan rela berangkat sejak dini hari demi mendapatkan tempat terbaik untuk menyaksikan matahari muncul.
“Yang foto-foto saat sunrise di Papuma juga banyak, tidak saya sendiri,” ungkapnya. (dwi)
Editor : Sidkin