HALOJEMBER - Ada aroma yang mampu membawa seseorang pulang. Bukan sekadar harum mentega yang menguar dari dalam oven, melainkan wangi kenangan yang bertahan melampaui pergantian zaman. Jeannette toko roti legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1935. Keberadaannya telah menjadi saksi perjalanan waktu banyak keluarga. Menghadirkan kehangatan dalam setiap lembar adonan yang dipanggang dengan penuh kesabaran.
Di balik etalase yang sederhana, waktu seolah berjalan lebih pelan. Resep-resep pilihan diwariskan bukan hanya sebagai kumpulan takaran bahan, tetapi sebagai warisan rasa yang dijaga dengan sepenuh hati. Tepung, mentega, gula, dan bahan-bahan terbaik berpadu menjadi roti yang tidak sekadar mengenyangkan, melainkan menghadirkan cerita yang hidup di setiap gigitan.
“Mama saya dulu suka bikin kue basah, lantas dia coba-coba bikin roti manis,” ujar Oma Siana pemilik toko roti. Toko roti ini dibangun saat Oma Siana masih berusia 5 tahun oleh orang tuanya. Tak banyak jenis roti yang dijual saat itu hanya ada roti tawar dan roti manis. Siana kecil juga sering membantu orang tuanya di dapur. Tangan mungilnya terampil menguleni adonan.
Nama toko roti Jeannette merupakan nama Perancis Oma Siana. “Itu nama Prancis, awalnya mama saya kasih nama Jeane, tapi guru menier Belanda bilang kasih Jeannette aja nama Perancis,” terangnya. Pada masa penjajahan Jepang toko roti Jeannette terpaksa harus tutup karena tidak ada pasokan tepung. Oma dan orang tuanya harus berjualan kacang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Oma Siana menunjukan sebuah lembaran kusam sebuah surat perijinan pembangunan toko yang ditulis dalam bahasa Belanda. Konon saat itu tidak semua toko dan bangunan bisa mendapatkan surat perizinan pembangunan. Kata Oma toko roti Jeannette pernah menjadi distributor makanan roti tawar untuk Belanda selama 2 tahun.
“Dulu bagi rotinya pakai kupon, setiap bulan warnanya ganti, ada 100 roti setiap hari ” kenangnya.
Perjalanan mengembangkan usaha juga tidak mudah. Saat itu seluruh proses pembuatan roti masih dilakukan secara manual. Adonan diuleni oleh lima orang pekerja setiap hari untuk memenuhi pesanan dari komunitas warga Belanda yang tinggal di Indonesia. Mesin pertama itu menjadi titik awal modernisasi usaha. Setelah itu, ia kembali membeli peralatan produksi secara bertahap hingga akhirnya memiliki sekitar 15 unit mesin yang mendukung proses pembuatan roti.
Lebih dari sekadar tempat membeli roti, toko ini juga menghadirkan nuansa nostalgia. Interior yang mempertahankan sentuhan klasik serta aroma roti yang baru keluar dari oven menciptakan pengalaman yang membawa pengunjung kembali ke masa lalu. Tak sedikit yang datang bukan hanya untuk membeli roti, melainkan untuk menemukan kembali sepotong masa lalu.
“Ada pelanggan Oma dari Belanda, dulu sering beli disini sekarang anak cucunya kalo main ke Indonesia pasti mampir ke sini, pasti cari Oma,” ujarnya.
Editor : Viona Rj