HALOJEMBER.COM- Bondowoso memiliki banyak situs bersejarah yang masih terjaga. Seperti situs pra sejarah zaman megalitikum. Situs itu dikenal dengan sebutan watu lawang atau betoh labeng. Terletak di Dusun Krajan, Desa Banyuputih, Kecamatan Wringin.
Ada banyak situs batu megalitikum di Bondowoso salah satunya betoh labeng salahsatunya. Situs ini menjadi batu paling besar. Batu lawang memiliki panjang 7,2 meter, lebar 5 meter dan tinggi 7,5 meter. Lokasinya berada di ketinggian 492 meter diatas permukaan laut (mdpl).
Juru pelihara watu lawang, Abdul Wapi menjelaskan, selain dikenal dengan sebutan batu labeng juga disebut Batu Eppian. Disebut Batu Eppian karena situs ini konon merupakan batu tempat penyepian atau lokasi untuk bersemedi.
Ditengah batu labeng terdapat celah berukuran belasan sentimeter. Celah itu digunakan untuk mengukur datangnya musim kemarau pada zaman dahulu.
"Jadi kalau posisi matahari berada tepat diatas celah batu, maka itu pertanda musim kemarau akan datang. Petani akan mulai menanam padi," terangnya.
Meski terlihat sederhana ternyata batu labeng memiliki nilai sejarah yang unik. Setiap hari selalu ada pengunjung yang datang untuk melihat Batu Labeng. Mulai dari pelajar sekolah atau komunitas sering mendatangi Batu Labeng.
Perlu waktu 30 menit dengan jarak tempuh 19 kilometer dari kota Bondowoso untuk menuju situs Batu Labeng. Namun bagi pecinta peninggalan zaman megalitikum, jarak tersebut tidak menjadi penghalang.
Selain itu konon, banyak peninggalan jaman dahulu yang terkubur di lokasi batu labeng mulai dari keris, cincin, gimang atau sering disebut gelang terkubur di tempat tersebut.
Hal itu menarik perhatian, para pecinta benda kuno termasuk para penyuka mistis. Maka tidak heran, jika banyak pengunjung yang datang untuk tujuan diatas.
Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan menjelaskan, berdasarkan catatan babat Bondowoso sekitar tahun 1789, ketika Ki Ronggo memperluas wilayah ke arah selatan, sudah ditemukan desa-desa kuno yang menyembah batu besar. "Itu berdasarkan catatan babat Bondowoso, di zaman nenek moyang terdahulu," jelasnya.
Rencananya Batu Labeng akan dijadikan sebagai destinasi wisata cagar budaya. Namun, hal itu tidak semudah yang dikira. Banyak persyaratan yang harus dilakukan. "Soalnya, destinasi cagar budaya berbeda dengan membangun destinasi wisata buatan. Harus ada beberapa persyaratan yang dilakukan," imbuhnya.
Berdasarkan informasi dari masyarakat, Batu Labeng sering dijadikan sebagai tempat upacara persembahan. Hal itu bertujuan agar musim kemarau tidak terlalu panjang.
Meski kegiatan tersebut sudah tidak dilakukan. Namun warga sekitar masih banyak yang menganggap batu itu sakral.
Editor : Halo Jember