Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Main Kelereng, Masih Tumbuh di Pelosok Bondowoso

Halo Jember • Rabu, 31 Januari 2024 | 18:28 WIB
Anak-anak bermain kelereng di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, (Foto : Dok Radar Jember)
Anak-anak bermain kelereng di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, (Foto : Dok Radar Jember)

HALOJEMBER.COM – Siapa nih yang dulu disuruh tidur siang malah kabur main kelereng?. Permainan anak yang satu emang sering dimainkan saat berkumpul dengan teman-teman. Hingga saat ini permainan ini masih digemari loh. Bukan hanya anak-anak tapi juga orang dewasa. Kelereng seolah tak pernah lekang oleh waktu.

Sore itu Suhardi menyiapkan beberapa butir kelereng yang siap diadu dengan temannya. Mereka berjanji bertemu untuk bermain kelereng di halaman rumah. Hampir setiap hari Suhardi bermain kelereng dengan teman-temannya.

 "Seru, kalau tembakannya meleset pasti ketawa bersama-sama," ungkapnya disela fokusnya pada permainan jadul tersebut.

Setiap anak akan mempersiapkan mentalnya untuk beradu fokus melepas kelereng ke arah segitiga. Sebab, mereka hanya mempunyai satu kesempatan menembak, jika meleset, kesempatan itu bakal berganti ke lawan.

Metode permainan itu terbilang cukup menantang. Setiap pemain harus menyetor sejumlah kelereng ke petak segitiga, sementara jumlahnya mengikuti kesepakatan antar pemain.

Setelah itu, masing-masing pemain memegang satu kelereng untuk menembak menggunakan tangan.

Namun, untuk menentukan pemain yang melepas tembakan pertama, mereka harus melempar kelereng dari jarak yang telah ditentukan ke arah petak segitiga. Siapa yang terdekat, dia yang berhak menembak duluan.

Ditengah permainan Nurul menjelaskan, setiap pemain harus menembak kelereng yang berada di sudut petak segitiga. Bagi pemain yang berhasil mengenai target, membuat kelereng keluar dari garis petak, secara otomatis kelereng itu menjadi hak milik.

"Kalau sudah keluar dari garis, kelereng itu langsung jadi punya dia (pemain,Red). Setelah itu, dia masih bisa melepas tembakan lagi, sampai gak kena, (kesempatannya habis, Red)," katanya.

Ketika pemain pertama meleset, kesempatan menembak berikutnya diganti oleh pemain lain. Begitu seterusnya sampai kelereng yang berada di dalam petak itu habis.

"Kalau sudah habis, kami mulai dengan menyetor kelereng ke petak itu, lalu permainan dimulai dari awal lagi," imbuhnya.

Salah seorang pemain lainnya bernama Suhardi menambahkan, permainan itu dapat dilakukan minimal dua orang.

Di dalam permainan itu, mereka berharap memperoleh kelereng sebanyak-banyaknya di dalam petak. Oleh sebab itu, tingkat kejelian dalam membidik kelereng cukup penting.

"Kalau tembakannya selalu kena, pulangnya bisa bawa banyak kelereng," timpalnya sambil memainkan kelereng yang digenggamnya

Memiliki Banyak Manfaat

Kelereng merupakan jenis permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak. Bole kelereng terbuat dari kaca, tanah liat atau agate umumnya memiliki ukuran diameter 1,25 cm.

Bermain kelereng bisa menjadi pilihan aktivitas saat berkumpul dengan teman-teman. Bukan hanya murah dan menyenangkan, tapi permainan ini punya banyak manfaat.

Permainan ini bersifat edukatif dan kompetitif. Bermain kelereng juga melatih kemampuan motorik. Sebab, permainan itu membuat setiap pemainnya menjadi fokus.

Dengan bermain kelereng juga mempererat pertemanan antar sesama. Anak juga belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan temannya.

Selain itu bermain kelereng juga bisa melatih konsentrasi anak sebab ada kegiatan melempar atau mengarahkan kelereng untuk mengenai sasaran.

 

Editor : Halo Jember
#permainan #tradisional #kelereng #anak - anak #bondowoso