HALOJEMBER - Akhirnya sampai di Situs Sewu Umpak di wilayah Pegunungan Hyang Argopuro. Perjalanan memasuki Desa Kemiri Kecamatan Panti ini juga melewati jembatan yang di bawahnya adalah aliran sungai.
Beberapa meter setelahnya akan melihat satu batu besar dan sebaran batuan kecil lainnya hingga areal persawahan.
Banyak yang menyebutnya sebagai sisa banjir bandang pada 2006 silam. Banyak di antara batuan dari sungai akhirnya terangkat ke daratan.
Namun satu batuan besar diduga adalah dolmen dari era Megalitikum.
Dugaan ini terlihat dari cirinya yang mirip dengan dolmen, ada batuan penyangga di bawah dengan lorong atau ruang kosong sempit.
Konon, ruang kecil di bawah batu itulah yang digunakan untuk menaruh sesajen atau persembahan.
Peneliti sejarah yang juga merupakan Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada, Y Setiyo Hadi memaparkan, keberadaan Pegunungan Hyang Argopuro merupakan Mandala (lingkaran).
Terdapat berbagai temuan kekunoan atau arkeologis di Desa Kemiri hingga lereng Pegunungan Argopuro, bahkan di sekitar puncak Gunung Argopuro sebagai puncak tertinggi dari Pegunungan Hyang.
“Konsep Mandala dalam sejarah mandala memiliki beberapa makna dalam sejarah, yaitu sebagai objek ritual, ruang pendidikan, ruang sosial, dan model politik, yang berpusat pada puncak gunung yang dianggap sebagai wilayah yang suci (the sacred place),” terangnya, Jumat (22/11).
Menurutnya, ada berbagai macam peninggalan zaman prasejarah, Megalitikum, hingga klasik yang terpendam di Pegunungan Hyang Argopuro.
Pegunungan tersebut merupakan wilayah suci berbagai keyakinan sebagai cermin alam semesta. Informasi itu, kata dia, digali dari berbagai prasasti, kitab, hingga arsip kolonial Belanda.
Baca Juga: Museum Kereta Api Bondowoso akan Sediakan Wisata Lori Menuju Wonosari
Satu di antara peninggalan kebudayaan Megalitikum tua ialah dolmen yang disusun dari batuan besar. “Wilayah Jember, terutama dalam lingkaran (mandala) pegunungan Hyang Argopuro, ditemukan ribuan tinggalan arkeologis Tradisi Megalitik,” kata pria yang akrab disapa Yopi itu.
Dijelaskan, masyarakat pendukung Tradisi Megalitikum, termasuk yang berada dalam mandala pegunungan Hyang Argopuro di wilayah Jember, bagian yang menonjol adalah kehidupan religiusitas dengan menggunakan hasil budaya megalitikum sebagai pemujaan arwah yang bersifat suci (sakral) untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang.
Sementara, tambahnya, daerah dengan temuan peninggalan zaman Megalitikum dari masa prasejarah adalah di wilayah Mandala Pegunungan Hyang Argopuro di Jember dan Bondowoso. (sil/nur)
Editor : Halo Jember