Meskipun tidak sebesar kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit atau Sriwijaya, Kediri meninggalkan jejak sejarah yang mendalam, terutama di bawah kepemimpinan Raja Jayabaya.
Kerajaan ini juga dikenal dengan berbagai nama, seperti Panjalu, Daha, dan Kadiri, yang menggambarkan kompleksitas dan dinamika dalam sejarahnya.
Kerajaan Kediri adalah hasil dari pembagian wilayah kerajaan Medang Kamulan oleh Raja Airlangga kepada kedua putranya, Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.
Samarawijaya memperoleh wilayah Kediri, sementara Garasakan menguasai Jenggala. Pembagian ini sebenarnya menciptakan ketegangan antara kedua wilayah tersebut.
Kedua putra Raja Airlangga ini terlibat dalam perseteruan panjang yang berlangsung selama 60 tahun, karena masing-masing ingin menguasai seluruh wilayah takhta. Perselisihan ini menjadi latar belakang konflik yang terus berkembang di masa-masa berikutnya.
Puncak kejayaan Kerajaan Kediri terjadi pada masa pemerintahan Raja Jayabaya (1135-1159 M), yang dikenal sebagai salah satu penguasa terhebat dalam sejarah kerajaan ini.
Jayabaya berhasil menyatukan kembali wilayah Kediri dan Jenggala yang sempat terpecah. Tak hanya itu, Raja Jayabaya juga terkenal dengan kemampuannya sebagai seorang pujangga yang memiliki kemampuan meramal masa depan, khususnya yang berkaitan dengan nasib dan kondisi tanah Jawa.
Ramalan-ramalan Jayabaya, yang dikenal dengan istilah Jangka Jayabaya, masih diingat dan dipelajari hingga kini, sebagai bagian dari kekayaan tradisi sastra dan budaya Jawa.
Selain itu, Kerajaan Kediri juga memiliki peranan penting dalam perdagangan maritim di Asia. Letaknya yang strategis di sepanjang Sungai Brantas memudahkan kerajaan ini untuk terhubung dengan berbagai wilayah lain, baik di dalam maupun luar Nusantara.
Kediri menjadi pusat perdagangan yang mengalirkan berbagai komoditas penting, seperti beras, emas, perak, kayu cendana, rempah-rempah, dan pinang. Pedagang Kediri bahkan mampu bersaing dengan pengaruh Kerajaan Sriwijaya, yang juga terkenal dengan kekuatan maritimnya.
Dalam bidang sastra, Kerajaan Kediri juga mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di bawah pemerintahan Raja Jayabaya dan penerusnya, Raja Kameswara. Karya-karya sastra yang lahir dari kerajaan ini menunjukkan betapa besar pengaruh budaya dan intelektualitas di kalangan masyarakat Kediri pada masa itu.
Beberapa karya sastra terkenal dari Kerajaan Kediri antara lain Kakawin Bharatayudha, Kakawin Arjunawiwaha, Kakawin Smaradahana, Kitab Lubdaka, dan Kitab Wretasancaya.
Karya-karya ini tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran moral, etika, dan nilai-nilai kehidupan yang penting bagi masyarakat pada saat itu.
Namun, kejayaan Kerajaan Kediri tidak berlangsung selamanya. Pada tahun 1222 M, kerajaan ini runtuh setelah mengalami serangan dari seorang tokoh yang tidak terduga: Ken Arok, seorang mantan perampok yang memiliki ambisi besar untuk menjadi raja.
Ken Arok membunuh Raja Kertajaya, penguasa Kediri saat itu, dengan menggunakan keris yang dibuat oleh Empu Gandring, yang konon memiliki kekuatan magis.
Setelah berhasil merebut takhta Kediri, Ken Arok mendirikan kerajaan baru, yaitu Singasari, yang menjadi penerus kejayaan Kerajaan Kediri. Peristiwa ini menandai berakhirnya dominasi Kediri dan dimulainya babak baru dalam sejarah Jawa.
Dengan segala peristiwa dan pencapaian yang dimilikinya, Kerajaan Kediri tetap menjadi salah satu kerajaan yang paling menarik untuk dipelajari.
Sejarah panjang dan berliku yang mengelilinginya memberi gambaran tentang dinamika kekuasaan, persaingan, dan budaya di Nusantara pada masa lampau.
Kejayaan, perjuangan, serta kehancuran yang dialami Kerajaan Kediri menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan sejarah Indonesia yang terus dikenang hingga saat ini.
Penulis: Ahmad Rofiqhi Laming
Editor : Halo Jember