Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Batu Lawang Bondowoso, Saksi Bisu Warisan Leluhur yang Jadi Kalender Alam

Sidkin • Senin, 19 Mei 2025 | 18:00 WIB

 

MENENGOK: Juru pelihara saat mengecek beberapa area di situs Batu Lawang, Jumat (16/5). (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
MENENGOK: Juru pelihara saat mengecek beberapa area di situs Batu Lawang, Jumat (16/5). (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

 

BANYUPUTIH, Halo Jember - Situs warisan leluhur di Bondowoso cukup banyak. Salah satunya Situs Batu Lawang yang menjadi warisan zaman dahulu.

Terletak di Desa Banyuputih, Kecamatan Wringin, Batu Lawang merupakan situs purbakala yang tersembunyi.

Situs ini menyimpan sejuta cerita mistis dan nilai spiritual yang tinggi.

Batu besar peninggalan zaman megalitikum ini dikenal dengan nama Batu Lawang atau oleh masyarakat lokal Madura disebut Batu Eppian, yang bermakna batu untuk menyepi.

Lokasinya berada di ketinggian 300 meter di atas permukaan laut, menyuguhkan suasana hening yang mendukung aktivitas spiritual.

Juru pelihara situs, Abdul Wapi, menuturkan bahwa sejak tahun 1990, Batu Lawang mulai dilestarikan secara serius oleh masyarakat.

Sebelumnya, tempat ini lebih banyak digunakan untuk ritual tirakat yang dilakukan secara diam-diam.

“Dulu masih sepi, hanya warga sekitar yang datang untuk ritual dan menyepi. Sekarang, karena media sosial, banyak pengunjung dari luar daerah datang,” ujarnya.

Batu Lawang tidak hanya unik karena ukurannya yang monumental, yakni panjang 7,2 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 7,5 meter.

Baca Juga: Batu Labeng, Situs Peninggalan Jaman Pra-Sejarah Megalitikum di Bondowoso

Akan tetapi juga karena nilai budaya dan kepercayaan yang mengitarinya.

Batu ini dipercaya menjadi tempat semedi para pembabat awal desa, seperti KH Abdullah dan KH Abdul Azis, yang diyakini memiliki kedekatan spiritual tinggi.

Tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana leluhur desa mencari ketenangan batin dan petunjuk hidup melalui semedi.

Meski telah banyak dikenal publik, nuansa mistis Batu Lawang masih terasa kuat, terutama pada malam-malam tertentu.

Masyarakat sekitar rutin menggelar istigasah atau selamatan bulanan, khususnya pada malam tanggal 11 hijriah.

Ritual ini diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus menjaga aura spiritual situs agar tetap terjaga.

Salah satu hal paling menarik dan misterius dari Batu Lawang adalah fungsinya sebagai penanda musim kemarau.

Warga percaya bahwa saat musim kemarau tiba, sinar matahari pagi akan terbit tepat di tengah “lawang” atau celah batu.

"Bahkan beberapa hari kemarin sudah kami buktikan, sekitar pukul 05:50 matahari pas di celah lawang," ungkapnya.

Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana Batu Lawang bukan sekadar batu biasa, melainkan bagian dari sistem pengetahuan lokal yang menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Petani bahkan masih mengamati posisi matahari dari celah batu untuk menentukan waktu tanam dan panen yang menjadikannya sebagai semacam kalender alam. (faq/dwi)

Editor : Sidkin
#batu lawang #kalender #warisan #bondowoso #warisan leluhur #situs purbakala