Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Ajak Gen Z dan Alpha untuk Membaca Buku, Museum Telu Jember Gelar Diskusi

Sidkin • Senin, 19 Mei 2025 | 16:30 WIB
TANYA JAWAB: Moh. Hasan, Dosen Fakultas MIPA Universitas Jember membuka ruang diskusi untuk menumbuhkan minat ketertarikan membaca buku, di Museum Telu, Jember. (DWI SISWANTO/RADAR JEMBER)
TANYA JAWAB: Moh. Hasan, Dosen Fakultas MIPA Universitas Jember membuka ruang diskusi untuk menumbuhkan minat ketertarikan membaca buku, di Museum Telu, Jember. (DWI SISWANTO/RADAR JEMBER)

 

 

KARANGREJO, Radar Jember – Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh pada 23 April lalu, Museum Telu di Jember menggelar kegiatan edukatif untuk meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda, Sabtu (17/5).

Dalam kegiatan itu, terdapat lomba puisi on the spot dan diskusi literasi yang menghadirkan Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Jember (Unej), Moh. Hasan dan Redaktur Jawa Pos Radar Jember Dwi Siswanto.

Moh. Hasan yang sebelumnya menjabat sebagai Rektor Universitas Jember mengungkapkan, keprihatinannya terhadap rendahnya minat baca di Indonesia.

“Saat saya di Australia dan Belanda, warga di sana berpergian selalu membawa buku. Di kereta api pun membaca buku,” ungkapnya.

Menurut Hasan, untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi Gen Z dan Gen Alpha, diperlukan stimulus.

Ia menekankan pentingnya diskusi sebagai sarana untuk mendorong rasa ingin tahu dan keinginan untuk membaca lebih lanjut.

Salah satu peserta diskusi juga menanyakan tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI), seperti ChatGPT, dalam menyelesaikan tugas kuliah.

Hasan menjelaskan bahwa ada kurikulum berjenjang di kampus.

“Dosen memberikan tugas untuk review sebuah buku dan lain sebagainya. Ini bagian dari proses mendorong kemandirian pada mahasiswa. Sehingga, mahasiswa membaca buku,” terangnya.

Baca Juga: Tagar Justice For Nova Berbuah Hasil, Penerbit Tarik Buku Plagiat dari Pasaran

Kemandirian inilah yang menjadi bekal mereka menuntaskan tugas akhir, seperti skripsi. Sementara, pemakaian AI saat ini tidak bisa dihindari lagi.

“AI ini ibarat orang yang secara terus menerus belajar. Seperti dulu memakai google translate, dulu banyak kesalahan dalam menerjemahkan. Sekarang makin minim kesalahannya,” ungkapnya.

Walau ke depan AI, kebenarannya bisa mendekati 100 persen. Hal terpenting, menurut Hasan, adalah mendiskusikan.

“Apapun yang ditemukan di AI itu didiskusikan. Dari diskusi ini setidaknya ada rasa ingin tahu untuk membaca referensi buku,” terangnya.

Hal senada juga dilontarkan Dwi Siswanto. Menurut Redaktur Jawa Pos Radar Jember membuat anak yang tidak suka membaca, maka perlu ada pematik.

Yaitu lewat menulis dan berdiskusi. “Pada saat menulis itu perlu tambahan referensi. Begitu juga dengan diskusi,” paparnya.

Kepala Museum Telu, Priwahyu Hartanti, menyampaikan bahwa kegiatan diskusi semacam ini merupakan agenda reguler Museum Telu.

"Jadi setiap bulan kami ada acara, bisa diskusi, bisa bedah buku, membuat kreasi dari bahan bekas pakai, atau lainnya yang memberikan edukasi," katanya.

Karena bertepatan pada Hari Buku, maka tema kegiatan yang dilakukan saat ini bagaimana meningkatkan minat membaca buku Gen Z dan Gen Alpha, dan diikuti oleh siswa SMA, SMK, mahasiswa serta guru dan masyarakat. (dwi/nur)

Editor : Sidkin
#membaca #generasi muda #hari buku #museum #literasi #menulis #hari buku sedunia 2025 #Gen Z #buku #gen alpha