Malam turun perlahan di Ranu Regulo. Suhu dingin menusuk, kabut tipis menggantung di atas permukaan danau. Di sekelilingnya, cahaya dari beberapa tenda berkelip, berpadu dengan api unggun yang menjilat langit malam. Inilah suasana khas Ranu Regulo, danau kecil di kaki Gunung Semeru.
ATIQSON MAR IQBAL, Lumajang
Ragu Regulo berada di ketinggian 2.100 mdpl. Tepat di samping Ranu Pane, yang dikenal sebagai start pendakian Gunung Semeru.
Untuk menuju Ranu Regulo, cukup berjalan sekitar 10 menit dari Ranu Pane.
Udara terasa sejuk di siang hari dan sangat dingin di malam hari. Justru itulah yang membuat pengalaman camping berbeda.
“Kalau malam, langitnya jernih sekali. Bintang kelihatan penuh. Tidur di tenda jadi makin berkesan,” ujar Rifki, mahasiswa asal Surabaya yang datang bersama komunitas pecinta alam.
Siang harinya, suasana Ranu Regulo jauh lebih ramah.
Danau kecil dengan air yang tenang memantulkan bayangan pepohonan di sekitarnya.
Angin kemarau yang kering membuat langit cerah, cocok untuk foto atau sekadar duduk menikmati pemandangan.
Menjelang sore, biasanya sibuk menyiapkan peralatan masak. Aroma kopi hitam dan mie instan menyeruak dari tenda-tenda.
Suasana keakraban terjalin, meski para pendatang itu baru saja saling mengenal di tepi danau.
“Serunya camping di sini bukan hanya soal tidurnya. Tapi tentang kebersamaan, suasana, dan keindahan alam yang jarang ditemui,” kata Dewi, salah satu pengunjung asal Jember.
Namun, camping di Ranu Regulo juga butuh persiapan.
Pada puncak musim kemarau, suhu bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius pada dini hari. Sleeping bag, jaket tebal, dan matras tebal jadi perlengkapan wajib. (dwi)
Editor : Dwi Siswanto