Berlari di pematang sawah, menantang angin, dan merasakan kemenangan kecil saat benang lawan terputus. Layangan tak hanya beradu di udara, tapi juga merajut silaturahmi antar pemain. Dari sore yang penuh angin, lahirlah tawa, semangat, dan cerita yang akan selalu diingat.
BONDOWOSO – ILHAM WAHYUDI
“Jebrettt!” suara gesekan benang pecah di udara. Sebuah layangan putih oleng, lalu jatuh berputar ke tanah.
Spontan, teriakan “Putus! Putus!” menggema.
Anak-anak pun berhamburan, kaki-kaki kecil berlari mengejar layangan yang terjun bebas. Debu berterbangan, tawa pecah di udara.
Sore itu, langit Bondowoso tampak berbeda. Bukan hanya awan putih yang bergelayut, tapi juga puluhan layangan warna-warni yang menari bebas ditiup angin.
Di area persawahan Desa Sukowiryo, deretan anak-anak hingga orang dewasa larut dalam keseruan permainan aduan layangan.
Bagi M Arif Hidayatullah, warga setempat, aduan layangan bukan sekadar bermain angin dan benang.
“Ada strateginya. Kapan harus tarik, kapan harus ulur. Rasanya seperti duel, tapi di udara,” jelas pria yang akrab disapa Arif itu.
Sejak kecil Arif sudah akrab dengan hobi ini. Jari-jarinya yang kasar tampak cekatan mengendalikan benang, sementara matanya fokus mengikuti gerakan layangan.
Baginya, momen paling membahagiakan adalah saat layangan lawan berhasil diputus.
Di sisi lain, Rio anak kecil yang masih belajar layangan ikut larut dalam permainan. Dengan semangat ia menerbangkan layangan kecil yang lincah di udara.
“Punya kakak lebih kuat, tapi punya saya lebih cepat,” ujarnya polos sambil tertawa. (dwi)
Editor : Dwi Siswanto