ANAK yang terlalu sering bermain gadget sudah menjadi masalah umum yang dihadapi orang tua masa kini. Selain membuat anak tidak peduli dengan lingkungan sekitar, penggunaan HP tanpa kontrol juga menimbulkan sederet dampak buruk bagi perkembangan mereka.
YULIO FA – Radar Jember
Psikolog Marisa Selvy Helphiana menuturkan, apapun yang diberikan secara berlebihan pasti berdampak negatif, termasuk gawai.
“Anak yang terlalu sering main gadget akan menjadi apatis. Mereka jadi tidak peduli dengan sekitar, maka harus ada pendampingan,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa gangguan serius akibat penggunaan gadget yang berlebihan.
Di antaranya, menurunnya konsentrasi, sehingga saat ada peringatan bahaya anak bisa tidak menyadari.
Selain itu, muncul gangguan tidur karena HP digunakan hingga malam hari. “Sebaiknya, beberapa jam sebelum tidur anak sudah free dari HP,” jelasnya.
Gangguan lain adalah risiko obesitas akibat minimnya aktivitas fisik, serta bahaya radiasi dan sinar biru yang terus-menerus.
“Jika sudah kecanduan, maka anak bisa jadi agresif, sering tantrum, dan nanti kesulitan belajar,” kata Marisa.
Meski demikian, gadget tetap bisa memberikan dampak positif apabila ada pendampingan.
Misalnya untuk pembelajaran interaktif.
“Untuk balita bisa untuk mengenal warna, huruf, angka dengan cara menyenangkan. Bisa juga untuk melatih motorik halus, seperti aplikasi mewarnai,” terangnya.
Gadget juga bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan kognitif.
Namun, dia mengingatkan agar orang tua terlebih dulu mengecek aplikasi atau game yang digunakan, karena bisa saja mengandung unsur pornografi.
Marisa mengutip panduan penggunaan gadget dari asosiasi dokter anak di Amerika dan Kanada.
Anak usia 0-2 tahun sebaiknya tidak memegang gadget sama sekali karena tempurung kepala mereka masih belum sempurna dan rawan radiasi. Usia 3-5 tahun maksimal satu jam per hari, sedangkan 6-18 tahun maksimal dua jam per hari.
“Namun di lapangan, anak-anak justru menghabiskan waktu 4-5 kali lipat dari porsi yang disarankan,” imbuhnya.
Jika anak sudah mengalami ketergantungan, menurutnya perlu upaya pengurangan secara bertahap. Layaknya melawan kecanduan narkoba.
“Misalnya dalam seminggu dikurangi setengah jam, minggu berikutnya dikurangi lagi,” jelasnya.
Selain mengurangi, juga perlu diberikan kegiatan penyeimbang yang menarik, seperti berolahraga, kursus, atau aktivitas lain yang menyenangkan.
“Harus dikenalkan dengan kehidupan nyata dan bersosialisasi langsung, agar mereka tidak hanya hidup di dunia maya,” pungkasnya. (yul/dwi)
Editor : Dwi Siswanto