Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Menyusuri Jejak Tiga Zaman di Museum Telu

Dwi Siswanto • Minggu, 7 September 2025 | 14:35 WIB

Museum Telu
Museum Telu

Dari minyak bumi, lumpang batu, kain tenun, hingga lukisan futuristik. Museum Telu menyajikan koleksi, sejarah hingga seni. Tiga ruang ini mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu narasi kebudayaan.

M ADHI SURYA, Radar Jember

Dari luar, rumah di komplek Perumahan Puri Bunga Nirwana itu sudah menyita perhatian, karena terdapat bambu yang melingkar.

Ternyata rumah tersebut bukan kediaman biasa, melainkan sebuah museum. Museum Telu namanya.

Memasuki ruang pertama, koleksi minyak bumi menjadi pembuka. Minyak dari isi perut bumi itulah yang menjadi sejarah bagaimana peradapan dan teknologi manusia itu berubah.

Lumpang batu dan batu kapur dari Puger juga dihadirkan. Setrika arang dari era 1960-an seakan masih menyimpan jejak hangat rumah tangga tempo dulu.

koleksi museum telu
koleksi museum telu

Rubuk majemuk syarif, alat penunjuk waktu salat dari tahun 1920, berbentuk seperempat lingkaran berdiri sebagai saksi bisu kehidupan religius masyarakat masa silam.

“Dari 105 koleksi, baru 62 yang sudah kami identifikasi,” ujar Owner Museum, Priwahyu Hartanti sambil menunjukkan timbangan tembaga dari awal 1900-an.

Menurutnya, benda-benda itu bukan sekadar artefak, melainkan cermin dari kehidupan, teknologi, dan nilai yang pernah hidup di tengah masyarakat.

Usai menelusuri koleksi, pengunjung diajak bergeser ke ruang kedua yaitu sejarah seni.

Suasananya lebih berwarna, lukisan-lukisan menghiasi dinding, ada yang menggambarkan kehidupan prasejarah, ada pula yang berani membayangkan wajah manusia di masa depan.

Kain batik dan tenun dengan motif sarat makna turut menambah keanggunan ruang ini. “Seni adalah bahasa universal. Melalui seni, kita bisa membaca perjalanan manusia dan budayanya,” jelasnya.

Baginya, sejarah seni bukan hanya tentang estetika, melainkan refleksi bagaimana manusia mengekspresikan diri dan beradaptasi dengan zaman.

Menyusuri lorong-lorong Museum Telu ibarat berjalan dalam tiga zaman sekaligus. (dwi)

Editor : Dwi Siswanto
#puger #batik #museum #Museum Telu #tenun