BONDOWOSO, Radar Jember - Dari luar, lahan seluas 600 meter persegi di Kelurahan Badean itu tampak biasa saja.
Namun, begitu melangkah ke dalam, suasana seketika berubah. Aroma lembab tanah bercampur segarnya udara rumah kaca langsung menyambut.
Deretan melon dengan corak jala hingga kuning keemasan menggantung manis, seakan menanti tangan pengunjung untuk dipetik.
Inilah Bhumi Yasa Sita, agrowisata melon yang baru beberapa bulan berdiri namun sudah jadi bahan perbincangan warga Bondowoso.
Konsepnya sederhana: wisata sambil belajar. Dengan tiket Rp 10 ribu, pengunjung bisa masuk, mengelilingi green house, hingga mendapat segelas jus melon segar.
Tak berhenti di situ, mereka bisa merasakan pengalaman memetik buah sendiri. Tinggal pilih yang ranum, timbang, dan bayar sesuai harga, mulai Rp 22.500–Rp 25.000 per kilogram, tergantung jenisnya.
Ada empat varietas unggulan: Hami, Ryoma (Sweet Net), Rangipo, hingga Golden Sweet Net.
“Kalau ingin bawa pulang, tinggal metik kemudian ditimbang,” jelas Augustinus Kristiono, pemilik Bhumi Yasa Sita Green House.
Keunggulan kebun ini ada pada masa tanam yang singkat, hanya 60–70 hari. Dengan pola bergilir, panen bisa dilakukan hampir setiap bulan.
Tak heran green house ini selalu hidup.
Di utara dan selatan ditanami varietas berbeda, agar panen tak pernah berhenti.
Bagi Augustinus, kebun melon ini adalah cara produktif mengisi masa pensiunnya. Dia tak ingin lahan kosong terbengkalai, sehingga disulap menjadi kebun modern yang sekaligus tempat edukasi.
Lokasinya strategis, hanya lima menit dari Alun-Alun Bondowoso, membuat Bhumi Yasa Sita cepat populer. (faq/dwi)
Editor : Dwi Siswanto