HALO JEMBER- Radar Jember - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember membawa aspirasi besar ke Senayan. Dalam kunjungan kerja ke Komisi VI DPR RI di Jakarta, mereka meminta agar runway atau landasan pacu Bandara Notohadinegoro diperpanjang.
Usulan ini dinilai penting agar pesawat berbadan besar seperti Boeing dan Airbus bisa mendarat di Jember. Dengan begitu, peluang menghadirkan maskapai besar, mendatangkan investor, hingga meningkatkan arus wisatawan akan semakin terbuka.
Aspirasi ini disampaikan Komisi C DPRD Jember. Mereka difasilitasi langsung oleh anggota DPR RI dapil Jember–Lumajang dari Fraksi Gerindra, Kawendra Lukistian. Ketua Komisi C DPRD Jember, Ardi Pujo Prabowo, menegaskan, perpanjangan runway merupakan sebuah kebutuhan.
Menurutnya, dengan kondisi saat ini, bandara Notohadinegoro hanya bisa didarati pesawat jenis ATR.
Padahal, Jember membutuhkan landasan yang lebih panjang dan lebar. Sehingga, pihaknya mengusulkan panjang runway yaitu 2.500 meter dan lebar 45 meter. “Ini penting untuk membuka akses penerbangan yang lebih luas,” ujarnya.
Ardi menilai, langkah ini akan memberi dampak besar bagi perekonomian daerah. Selain membuka akses bagi maskapai besar, runway yang lebih panjang juga akan menarik minat investor. Sehingga, Jember tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga lokasi strategis untuk investasi.
Jika konektivitas udara semakin baik, maka arus masuk wisatawan ke Jember juga diyakini akan meningkat. Hal ini akan menggerakkan banyak sektor, mulai jasa, perkonomian, perdagangan, hingga pariwisata.
Oleh karena itu, tambah politisi Partai Gerindra ini perpanjangan runway Bandara Notohadinegoro patut diperjuangkan.
Sehingga bisa tumbuh menjadi pusat konektivitas baru bagi kawasan tapal kuda. Dia berharap usulan ini dapat disampaikan oleh Komisi VI kepada mitra kerja mereka. "Kami berharap Mas Kawe (Kawendra,Red) bisa meneruskan aspirasi kami kepada PTPN dan Angkasa Pura," harapnya.
Untuk diketahui, penerbangan komersial Jakarta–Jember (PP) telah dimulai. Sejak resmi beroperasi Selasa (23/9), maskapai Fly Jaya dengan pesawat ATR 72-500 sudah dua kali melayani penerbangan pulang-pergi.
Sementara, Pemprov Jatim juga melakukan hal yang sama. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub), Jatim, Nyono pada Juli kemarin, mengusulkan perpanjangan runway dua bandara ke Kementerian Perhubungan.
Yaitu Jember dan Sumenep. “Agar bandara bisa dilalui oleh pesawat berbadan lebih besar. Seperti jenis Boeing," jelasnya.
Khusus untuk Jember, rencananya runway akan diperpanjang dari 1.700 meter menjadi minimal 2.000 meter, bahkan diupayakan hingga 2.200 meter.
Namun, di Jember juga ada persoalan. Yaitu, terkait ketersediaan lahan. Karena sebagian merupakan milik PTPN.
“Pemerintah pusat berharap pembebasan lahan menjadi tanggung jawab Pemkab Jember, namun kemampuan APBD Jember cukup terbatas. Kami sudah mengusulkan bantuan keuangan dari Pemprov Jatim untuk pengadaan lahan,” ujarnya.
Sementara untuk Bandara Trunojoyo, proses pembebasan lahan telah dilakukan oleh Pemkab Sumenep dan diharapkan segera tuntas. Dengan begitu, masyarakat Jember dan Sumenep nantinya tidak perlu lagi ke Surabaya untuk terbang langsung ke Jakarta atau bahkan ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Jika Bandara Notohadinegoro dan Trunojoyo bisa melayani penerbangan langsung, dampaknya akan luar biasa bagi percepatan ekonomi daerah. Bandara akan menjadi gerbang ekonomi, dan Jawa Timur bisa menjadi gerbang baru Nusantara,” katanya. (kin/dwi)
Editor : Dwi Siswanto