Tak sekadar menyesapi aroma kopi, di Kampung Kopi Kluncing Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso - Jawa Timur. Wisatawan bisa ikut memetik, mengolah, hingga menikmati kopi hasil tangannya sendiri. Konsep wisata edukasi inilah yang membuat destinasi yang berjarak sekitar 33 kilometer dari pusat Kota Bondowoso ini memiliki kesan tersendiri.
FAQIH HUMAINI, Bondowoso
PERJALANAN menuju Kampung Kopi Kluncing relatif mudah. Akses jalannya bisa ditempuh dengan motor atau mobil dengan waktu tempuh sekitar 50 menit.
Begitu tiba, pengunjung akan disambut suasana asri khas dataran tinggi di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Udaranya yang sejuk berpadu dengan aroma kopi yang menggoda, membuat setiap langkah terasa santai dan menenangkan.
Namun wisata ini, bukan sekadar menikmati keindahan alam. Kampung Kopi Kluncing menghadirkan pengalaman belajar yang tak biasa.
Wisatawan diajak langsung ke kebun untuk memetik biji kopi, mengenal jenis-jenis pohon kopi arabika, hingga memahami bagaimana menentukan buah kopi yang siap panen. Semua proses ini dipandu langsung oleh pemandu wisata atau tour guide.
“Setelah berkeliling kebun, pengunjung bisa melihat proses pengolahan kopi, mulai dari penjemuran, sangrai, sampai penyeduhan. Bahkan, wisatawan bisa mencoba membuatnya sendiri dan langsung menikmati hasilnya,” ujar Suharsono, Pembina Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sukorejo.
Menurut Suharsono, konsep wisata edukasi petik kopi ini sengaja dikembangkan agar pengunjung tidak hanya datang untuk berswafoto, tapi juga pulang dengan pengetahuan baru.
“Kami ingin setiap orang mengetahui bahwa di balik secangkir kopi ada proses panjang dan nilai budaya yang kuat. Ini juga menjadi cara kami memperkenalkan kopi Bondowoso ke dunia,” jelasnya.
Kegiatan edukatif semacam ini juga menarik bagi pelajar dan mahasiswa.
Banyak sekolah yang datang untuk belajar langsung tentang pengelolaan kopi dari hulu hingga hilir. Dari kebun ke cangkir, pengalaman ini menjadi pelajaran hidup tentang kerja keras, ketelitian, dan cinta terhadap alam. (dwi)
Editor : Dwi Siswanto