Kalau kalian berkunjung ke Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Jember, jangan kaget kalau melihat anak-anak berlarian di atas egrang dari bambu.
Di sini, bambu bukan cuma bahan bangunan, tapi sudah jadi bagian dari kehidupan dan cara belajar yang unik.
Semuanya bermula dari permainan sederhana, egrang. Lewat permainan inilah lahir Komunitas Tanoker, yang didirikan oleh Dr. Suporahardjo dan Farha Ciciek pada tahun 2009.
Mereka menjadikan egrang sebagai media pendidikan bukan hanya untuk melatih keseimbangan, tapi juga membentuk karakter, disiplin, dan rasa kebersamaan di desa para keluarga buruh migran.
Nama Tanoker sendiri diambil dari bahasa Madura yang berarti kepompong, simbol perubahan dari ketergantungan menuju kemandirian.
Anak-anak belajar lewat permainan, sementara para orang tua juga aktif lewat forum bok-ebok, tempat mereka saling berbagi pengalaman tentang keluarga, pengasuhan, dan usaha kecil.
Sekarang, Tanoker Ledokombo sudah dikenal sebagai desa wisata edukasi berbasis bambu.
Kalian bisa menemukan banyak produk kreatif hasil karya warga mulai dari batik egrang, kerajinan bambu, sampai kuliner khas lokal.
Banyak mantan buruh migran yang pulang ke desa dan ikut mengelola homestay dan wisata bambu, jadi penggerak ekonomi baru di kampung sendiri.
Puncaknya ada di Festival Egrang Tanoker, acara tahunan yang selalu ramai dan penuh semangat.
Di edisi ke-13 tahun 2025, temanya adalah “Memuliakan Bambu untuk Perdamaian” dan dihadiri banyak tokoh nasional.
Salah satu pendirinya, Suporahardjo, pernah bilang, “Bambu itu seperti ibu, melahirkan egrang, permainan, dan kehidupan. Bambu tumbuh bersama, tidak pernah sendiri, seperti keluarga yang saling menguatkan.”
Dari bambu dan permainan egrang, kalian bisa belajar banyak hal tentang keseimbangan, kerja sama, dan bagaimana sesuatu yang sederhana bisa menumbuhkan perubahan besar di desa kecil.
Penulis: Tazyinatul Ilmiah Magang 25
Editor : Dwi Siswanto