Halo Jember - Di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, terdapat sebuah waduk besar yang menjadi ikon sekaligus kebanggaan daerah ini yaitu Waduk Gajah Mungkur.
Waduk raksasa ini dibangun sebagai pengendali aliran Sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa yang membentang hingga ke wilayah Jawa Timur.Di balik panorama indah dan daya tarik wisata airnya, Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri ternyata menyimpan kisah mistis yang membuat bulu kuduk merinding.
Waduk yang berjarak sekitar 6 kilometer di selatan pusat kota Wonogiri ini bukan hanya dikenal karena luasnya yang mencapai 8.800 hektare, tetapi juga karena legenda dan misteri makam-makam kuno yang konon tenggelam di dasar waduk.
Waduk ini diberi nama Gajah Mungkur karena letaknya yang tak jauh dari Pegunungan Gajah Mungkur di sisi baratnya.
Namun, nama itu juga dikaitkan dengan mitos seekor gajah sakti milik Raja Paku Buwono yang diyakini pernah bertapa di bukit yang kini terendam air waduk. Dalam kepercayaan warga sekitar, arwah sang gajah masih menjaga kawasan waduk hingga kini, menjadi pelindung gaib bagi siapa pun yang berkunjung ke sana.
Namun, di balik kisah legenda itu, ada cerita nyata yang tak kalah menyeramkan. Saat pembangunan waduk dimulai pada akhir tahun 1970-an, ratusan makam kuno dan makam leluhur warga tak sempat dipindahkan.
Akibatnya, seluruh area pemakaman itu tenggelam di dasar waduk ketika air mulai menggenangi wilayah tersebut.
Konon, sebagian makam yang tenggelam itu berasal dari era 1900-an, dengan batu nisan beraksara Jawa yang masih bisa terbaca.
Menurut penuturan warga setempat yang dikutip dari misteridanfenomena.com, ketika musim kemarau tiba dan air waduk mulai surut, puluhan batu nisan sering muncul kembali ke permukaan. Pemandangan ini kerap mengundang rasa penasaran, sekaligus ketakutan bagi sebagian orang.
Beberapa warga sekita waduk mengaku melihat kijing (batu makam) yang masih utuh, sementara yang lain hanya tersisa puing-puing berserakan di tepi genangan air.
Nama-nama di nisan sebagian masih dapat terbaca, tapi ada pula yang sudah samar, seolah waktu menghapus identitas mereka yang pernah dimakamkan di sana.
Tak berhenti di situ, ada pula kisah tentang penampakan makhluk halus berbungkus kain kumal disebut pocong yang sering terlihat di jalanan sekitar waduk saat malam hari. Pengendara yang melintasi kawasan itu mengaku pernah melihat sosok tersebut di tepi jalan sebelum tiba-tiba menghilang.
Meski kisah-kisah seram ini telah lama beredar, Waduk Gajah Mungkur tetap menjadi salah satu destinasi wisata utama di Wonogiri. Banyak wisatawan datang untuk menikmati pemandangan alamnya, berperahu, atau sekadar bersantai di tepi waduk.
Namun, bagi sebagian pengunjung yang tahu cerita di baliknya, suasana sore di tepian waduk saat matahari tenggelam bisa terasa berbeda sunyi, indah, sekaligus menyimpan misteri yang tak kasatmata.
Bagi masyarakat Wonogiri, Waduk Gajah Mungkur bukan hanya sumber air dan tempat wisata, tetapi juga peninggalan sejarah yang menyatu dengan kisah mistis dan legenda. Di antara air tenang dan hembusan angin sore, mereka percaya bahwa di dasar waduk, arwah para leluhur masih bersemayam, bersama sang Gajah Sakti Penjaga Waduk, yang setia melindungi dari gangguan apa pun.
Penulis: Agil Prasetyo
Editor : Dwi Siswanto