Halo Jember - Setiap 1 Muharram tiba, suasana Dusun Mojan di Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Jember, terasa berbeda.
Dari kejauhan, terdengar lantunan doa, disusul suara riuh langkah kaki warga yang berbondong-bondong menuju area pemakaman tua di lereng Gunung Argopuro.
Mereka tidak sedang melayat, melainkan merayakan kehidupan melalui sebuah tradisi kuno yang disebut Sandurellang.
Tradisi ini bukan sekadar upacara, tapi juga wujud penghormatan terhadap leluhur dan doa bersama agar desa selalu dalam lindungan Tuhan.
Warga berkumpul, bergandengan tangan, mengelilingi makam leluhur sambil melantunkan doa-doa dalam bahasa kuno.
Momen itu dipenuhi suasana sakral, tapi juga hangat karena diakhiri dengan makan bersama makanan dibungkus daun pisang, dinikmati ramai-ramai sebagai simbol kesederhanaan dan kebersamaan.
Nama Sandurellang sendiri berasal dari dua kata: sandur, yang berarti berkumpul dan bermain bersama, dan rellang, yang bermakna pesan atau pengingat.
Filosofinya sederhana tapi dalam manusia sejatinya akan kembali ke asalnya, dan selama hidup, ia sebaiknya menjaga hubungan baik dengan sesama serta menghormati mereka yang telah tiada.
Di balik keseruannya, tradisi ini menyimpan pesan spiritual yang kuat tentang asal-usul dan makna hidup.
Menurut cerita warga, tradisi ini sudah dilakukan turun-temurun sejak masa leluhur mereka, bahkan dipercaya bermula dari kisah tokoh penyebar Islam bernama Eyang Taka.
Sosok ini dikenal sebagai pembuka pemukiman di wilayah Klungkung dan dianggap sebagai penjaga spiritual desa.
Tak heran jika setiap tahun, ritual selalu digelar di bhujuk Taka makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan sang pendiri kampung.
Baca Juga: 5 Film Zombie Garapan Indonesia yang Sudah Tayang di Bioskop, Versi Low Budget dan Go International
Lokasinya berada di dataran tinggi yang rimbun dan sejuk.
Ritual ini dipimpin oleh seseorang yang disebut pemimpin Sandurellang, dan jabatan itu tidak bisa dipilih sembarangan.
Ia diturunkan secara turun-temurun melalui petunjuk mimpi, tapi begitulah cara masyarakat setempat menjaga spiritualitasnya.
Tradisi ini sempat vakum beberapa tahun karena pemimpinnya menua, tapi semangat masyarakat tak pernah padam.
Sejak 2021, ritual kembali hidup, bahkan kini mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Setiap 1 Muharram, warga tak hanya berdoa dan menari, tapi juga membawa hasil bumi seperti pisang, ketela, dan nasi tumpeng untuk disantap bersama sebagai simbol syukur atas rezeki dan keselamatan.
Menariknya lagi, Sandurellang kini juga menjadi bagian dari kalender budaya Jember. Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis) Kabupaten Jember, Muzanni, mengatakan bahwa acara ini menjadi ajang silaturahmi besar, sekaligus bentuk penghargaan terhadap tradisi yang sudah diwariskan sejak 1917.
Kini, Sandurellang tak hanya menjadi doa untuk keselamatan desa, tapi juga simbol keteguhan warga Jember dalam menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi.
Dari tanah subur di lereng Argopuro, pesan leluhur terus bergema: hidup adalah tentang mengingat asal, menjaga sesama, dan bersyukur atas setiap langkah yang diberikan.
Penulis: Tazyinatul Ilmiah
Editor : Dwi Siswanto