Halo Jember – Dalam beberapa tahun terakhir, tren mendaki gunung semakin populer di kalangan anak muda maupun komunitas pecinta alam.
Aktivitas ini tidak lagi sekadar hobi, melainkan telah menjadi gaya hidup yang erat kaitannya dengan kebutuhan akan petualangan, pencarian ketenangan, hingga konten untuk media sosial.
Sejumlah gunung di Indonesia kini ramai dikunjungi, mulai dari Semeru, Rinjani, hingga Merbabu.
Namun, di balik ketenaran gunung-gunung tersebut, ada satu destinasi yang kerap dijuluki sebagai jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa, yakni Gunung Argopuro yang melintasi beberapa kabupaten, termasuk Jember.
Gunung Argopuro memiliki ketinggian sekitar 3.088 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Keistimewaan gunung ini bukan hanya panorama alamnya yang masih asri dan kaya keanekaragaman hayati, tetapi juga jalur pendakiannya yang menantang.
Selain itu, Argopuro juga menyimpan peninggalan sejarah pada era kolonial Belanda berupa bangunan penginapan dan landasan udara.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya edukasi. “Tren ini memang positif karena semakin banyak generasi muda mengenal alam. Tapi tetap harus ada kesadaran soal keselamatan dan etika mendaki,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan Faqih, seorang pendaki yang berhasil mencapai puncak Argopuro.“Selama perjalanan tiga hari, jujur tidak terasa lelahnya karena sepanjang jalur disuguhi padang savana luas, situs bersejarah Rengganis, hingga pesona Danau Taman Hidup yang mistis dan menenangkan. Satwa liar seperti merak hijau, rusa, hingga kera pun masih bisa ditemui di sana,” ungkapnya.
Pihak pengelola wisata alam dan komunitas pecinta lingkungan turut mengingatkan agar euforia mendaki tidak hanya mengejar popularitas. Kesadaran menjaga kelestarian alam serta mematuhi etika pendakian perlu terus ditanamkan.
Dengan jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa, Gunung Argopuro menjadi simbol bahwa mendaki bukan semata soal mencapai puncak, melainkan perjalanan panjang yang penuh pengalaman, cerita, dan pelajaran hidup.
Penulis: Agil Prasetyo