Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Dari Semboro Terbang ke Langit Jember: Makna dibalik Tradisi Tota’an Merpati

Dwi Siswanto • Minggu, 23 November 2025 | 20:00 WIB
FOTO: diambil dari website Pusaka Jawatimuran
FOTO: diambil dari website Pusaka Jawatimuran

Halo Jember - Bayangkan langit Jember yang biru tiba-tiba dihiasi ribuan burung merpati yang terbang berputar-putar di atas kepala.

Sayap-sayap mereka berkilau diterpa matahari, sementara di bawahnya, ratusan orang bersorak, tertawa, dan sesekali memotret dengan wajah bangga.

Pemandangan ini bukan festival biasa tetapi ini Tota’an Merpati, sebuah tradisi khas Jember yang menyatukan warga lewat kesetiaan seekor burung.

Tradisi ini pertama kali tumbuh di Kecamatan Semboro, lalu perlahan menyebar ke wilayah lain seperti Tanggul, Mangli, hingga Puger.

Masyarakat menyebutnya Tota’an Doro, gabungan kata dari bahasa Madura tota’an yang berarti “menumpahkan atau melepaskan,” dan bahasa Jawa doro yang berarti “merpati.” Artinya sederhana: melepas merpati, tapi maknanya mendalam jauh tentang kedamaian, keikhlasan, serta rasa persaudaraan yang tak lekang waktu.

Biasanya, acara ini digelar satu atau dua kali dalam setahun.  Bukan festival besar dengan panggung megah, tapi suasananya selalu hangat.

Di lapangan terbuka, para pecinta burung merpati berkumpul, membawa keranjang berisi dara-dara peliharaan mereka.

Sebelum dilepas, burung-burung itu dimandikan, dibersihkan, lalu didandani dengan pita warna-warni atau jambul kecil di kepala.

Setiap merpati punya nama unik, kadang lucu dan menggelitik.. Nama-nama itu bukan untuk gaya, tapi bentuk kasih sayang dan kedekatan antara pemilik dan burungnya.

Acara ini bukan sekadar tentang burung. Bagi warga Jember, Tota’an adalah ruang hangat, tempat di mana tawa, cerita, dan keakraban ditumpahkan seperti merpati yang dilepas ke langit.

Ada sesi makan bersama, arisan sederhana, sampai tukar pengalaman soal perawatan merpati.

Hadiahnya mungkin tak besar, tapi nilainya justru ada pada cerita dan kehangatan yang mengalir tanpa sekat.

Ritualnya selalu dimulai dengan cara yang simbolis: dua ekor merpati dilepaskan lebih dulu, masing-masing mewakili dua arah mata angin, arah barat dan timur.

Mereka disebut pengantin barat dan pengantin timur. Saat kedua “pengantin” itu mengepakkan sayap dan melesat tinggi, semua mata terarah ke langit, menanti momen sakral berikutnya: pelepasan ribuan merpati secara serempak.

Dan ketika kawanan itu mengudara bersama, langit Jember seolah berubah menjadi kanvas hidup. Warna-warni pita di tubuh merpati berputar diatas langit biru, diiringi tepuk tangan dan sorak sorai penonton.

Beberapa burung kembali ke kandangnya masing-masing, seolah membuktikan pepatah lama bahwa merpati tak pernah ingkar janji.

Bagi sebagian orang, Tota’an hanyalah tradisi lokal. Tapi bagi masyarakat Semboro dan sekitarnya, ia adalah penanda jati diri, simbol bagaimana nilai damai dan setia bisa tumbuh dari hal-hal sederhana.

Sama seperti merpati yang terbang bebas namun selalu pulang, tradisi ini pun selalu menemukan jalannya untuk kembali meski zaman terus berubah.

Kini, Tota’an bukan hanya warisan budaya, tapi juga daya tarik wisata yang menggambarkan karakter khas masyarakat Pandhalungan perpaduan Jawa dan Madura yang hidup berdampingan di bumi Jember.

Setiap kali burung-burung itu mengudara, seolah ada pesan yang ikut dibawa, bahwa kebersamaan adalah rumah, dan pulang tak selalu tentang tempat, tapi tentang rasa.

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

Editor : Dwi Siswanto
#jember #Burung Merpati #tradisi #semboro #festival