JEMBER, Halojember - Inspeksi mendadak (sidak) Komisi D DPRD Jember ke RSD dr Soebandi membuka sejumlah persoalan mendasar dalam tata kelola rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
Sorotan tidak hanya pada pelayanan kesehatan, tetapi juga menyangkut manajemen sumber daya manusia dan sistem pengelolaan data yang dinilai belum optimal.
Anggota Komisi D Mohammad Hafidi mengatakan sidak dilakukan untuk memperoleh gambaran riil kondisi internal rumah sakit.
DPRD ingin memastikan pelayanan berjalan seiring dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, sejumlah data awal yang ditemukan justru memunculkan tanda tanya baru.
“Kami menemukan data yang cukup mencengangkan dan mau keluar dari aturan yang ada,” ujarnya.
Hafidi menegaskan temuan tersebut akan dibahas lebih lanjut melalui rapat dengar pendapat bersama manajemen rumah sakit.
DPRD juga akan membandingkan pengelolaan RSD dr Soebandi dengan rumah sakit lain guna mencari formula perbaikan.
Langkah ini diharapkan menghasilkan kesamaan arah kebijakan antara legislatif dan eksekutif. “Ini dalam rangka meningkatkan pelayanan dan peningkatan PAD kita,” katanya.
Komisi D juga menyoroti persoalan sistem pembayaran yang diduga memunculkan potensi kerugian.
Selain itu, ditemukan persoalan administrasi kepegawaian yang belum memiliki penjelasan jelas.
Baca Juga: Pantau Kualitas Layanan UHC, Bupati Fawait Blusukan Malam ke RSD dr. Soebandi
DPRD menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya standar pengelolaan yang lebih terstruktur.
Klarifikasi dari pihak direktur pun dinilai penting sebelum langkah pengawasan berikutnya dilakukan.
Anggota Komisi D Achmad Dhafir Syah juga menyoroti lemahnya sistem manajemen informasi rumah sakit.
Saat sidak berlangsung, dashboard data yang seharusnya menampilkan informasi kinerja justru tidak berfungsi.
Akibatnya, pejabat instalasi harus mencari data secara manual ketika dimintai penjelasan.
“Seharusnya tidak perlu masih utik-utik cari data. Semua sudah bisa terbaca lewat dashboard,” tegasnya.
Dhafir menilai kondisi tersebut menunjukkan pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) belum maksimal.
Padahal sistem digital seharusnya mampu memperbarui data secara real time seperti saat pandemi Covid-19.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSD dr Soebandi I Nyoman Semita, mengakui, digitalisasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Ia menyebut sebagian pegawai masih terbiasa menggunakan pola kerja lama berbasis laporan kertas.
Target digitalisasi penuh yang direncanakan selesai Februari pun belum tercapai.
“Pikiran teman-teman itu masih lama, jadi minta laporan dari kertas lagi,” kata Nyoman.
Selain persoalan digitalisasi, rumah sakit juga menghadapi keterbatasan daya tampung pasien.
Manajemen bahkan harus memanfaatkan ruang isolasi untuk pasien umum demi mengurangi antrean.
Nyoman meminta waktu melakukan konsolidasi internal untuk menghilangkan ego sektoral antarunit.
“Manajernya ini belajar abal-abal, jadi terlambat mengamati ego-ego yang muncul di masing-masing ruangan,” pungkasnya.*
Editor : Sidkin