HALOJEMBER – Ada dokumen rahasia perencanaan internal bocor ke public dan cukup menjadi perbincangan serius di kalangan elit.
Isinya mengungkap manuver masif jaringan filantropi global milik miliarder AS George Soros, Open Society Foundations (OSF), dalam upaya memengaruhi arah demokrasi di Indonesia.
Belum diketahui secara pasti dana besar dari asing yang masuk ke Indonesia ini untuk apa. Ada banyak dugaan, mulai dari pemberdayaan LSM atau dana untuk menggerakkan massa untuk tujuan demokrasi, bahkan ada yang menduga kemungkinan untuk “kudeta”.
Laporan yang dirilis oleh The Sunday Guardian Live membedah bagaimana jutaan dolar dialirkan melalui Yayasan Kurawal, sebuah lembaga perantara di Jakarta, untuk membentuk ekosistem perlawanan sipil di tengah transisi kekuasaan dari era Joko Widodo ke Prabowo Subianto.
Strategi "Raja Abu": Menghadang Era Prabowo
Dokumen tersebut memaparkan rencana strategis Kurawal 2024–2029 yang provokatif berjudul “Membangun Jembatan, Mengisi Kesenjangan.”
Di dalamnya, satu dekade kepemimpinan Presiden Joko Widodo (2014–2024) dilabeli secara ekstrem sebagai “dekade pembongkaran demokrasi.”
Baca Juga: Prabowo Targetkan 100 Gigawatt Tenaga Surya, Geotermal RI Disebut Cadangan Terbesar Kedua Dunia
Namun, fokus utama dokumen ini adalah antisipasi terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Dengan tajuk "Raja Abu: Bersiap untuk Tahun-Tahun Prabowo", strategi ini merancang peta jalan untuk mempromosikan perbedaan pendapat dan penggalangan perlawanan sistematis.
Tujuannya jelas, memperluas keterlibatan masyarakat sipil dalam proses politik melalui "pendekatan ekosistem" sebuah istilah untuk mengoordinasikan berbagai organisasi masyarakat sipil dalam satu komando narasi.
Hingga berita ini ditulis, ini menjadi perbincangan hangat di kalangan elit.
Editor : Hariri HJ