SUCOPANGEPOK, Halojember – Berada di garis perbatasan antarkabupaten sering kali membuat sebuah wilayah minim sentuhan pembangunan. Kondisi inilah yang dirasakan oleh warga Dusun Lengkong, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk.
Menjadi salah satu daerah paling pelosok di utara Jember, dusun yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso ini, kini sangat mendambakan perbaikan infrastruktur jalan dan pengadaan Penerangan Jalan Umum (PJU).
Selama ini, mobilitas warga Dusun Lengkong dipisahkan oleh pilihan jalur yang dilematis. Jika ingin menuju pusat Jember lewat jalan umum Desa Sucopangepok, warga harus bertaruh nyawa melewati jalanan rusak yang ekstrem dengan kontur naik-turun curam, meskipun sudah dirabat beton.
Pilihan kedua yang lebih realistis bagi warga adalah melintasi jalur Kecamatan Maesan, Bondowoso. Jalur ini jauh lebih landai dan mudah diakses karena Dusun Lengkong memang berbatasan langsung dan hanya dipisahkan oleh aliran sungai.
Melihat kondisi tersebut, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jember, Hanan Kukuh Ratmono, langsung turun ke lokasi untuk menyerap aspirasi konstituennya. Menurutnya, Dusun Lengkong sudah selayaknya mendapat perhatian khusus karena kondisinya yang terisolasi.
“Yang paling urgen di sini adalah akses jalan, karena memang ini pelosok. Kalau ada istilah 3T, ini sudah seperti daerah 3T-nya Jember,” ujar Hanan saat reses, Sabtu (18/7/2026).
Selain akses jalan desa yang rusak, keberadaan jembatan penghubung yang sempit menuju Maesan juga menjadi keluhan utama masyarakat. Lebar jembatan yang pas-pasan hanya bisa dilalui satu mobil secara bergantian, sehingga sangat rawan memicu kecelakaan.
Minimnya PJU juga membuat jalur tersebut gelap gulita dan berbahaya saat dilintasi warga pada waktu subuh untuk pergi berbelanja ke pasar terdekat. Bahkan, beberapa waktu lalu dilaporkan sudah ada pengendara yang menjadi korban akibat minimnya pengaman.
Persoalan infrastruktur ini kian disayangkan mengingat Desa Sucopangepok sebenarnya memiliki potensi destinasi wisata alam yang menjanjikan. Warga setempat mencatat, pembangunan infrastruktur yang masif di wilayah tersebut terakhir kali dirasakan pada masa pemerintahan Bupati Jalal.
Setelah era tersebut, pembangunan dinilai mandek dan hanya menyisakan agenda perawatan berkala, bahkan jembatan penghubung yang ada sekarang merupakan hasil swadaya mandiri masyarakat.
Menanggapi keluhan yang menumpuk tersebut, Hanan berkomitmen penuh untuk mengawal kebutuhan warga Dusun Lengkong di parlemen.
Ia memastikan seluruh keluhan terkait jalan, jembatan sempit, irigasi, plengsengan, hingga lampu penerangan akan diperjuangkan agar masuk dalam Rencana Kerja (Renja) DPRD dan dianggarkan pada APBD Jember.
"Insyaallah ini adalah upaya dari kami untuk menyapa dan memberikan manfaat nyata. Kami meminta dinas terkait untuk segera turun ke lapangan dan melihat langsung kondisi di sini," pungkas anggota Komisi C DPRD Jember tersebut. (kin)
Editor : Sidkin