Jalan ini tidak pernah protes,
meski tiap hari dilindas,
ditimpa janji,
dan dilupakan setelah dilalui.
Lubang-lubangnya menganga,
seperti mulut yang ingin bicara
tentang siapa yang datang saat kampanye,
dan siapa yang hilang setelahnya.
Kita melintas pelan,
menghindari lubang demi lubang,
tanpa sadar
kita juga sedang menghindari kenyataan.
Bahwa rusak ini bukan takdir,
tapi hasil dari
yang sengaja dibiarkan.