Geometri Nasib
Di genggamanmu, waktu bukan sekadar angka yang berbaris rapi,
ia adalah ruang kosong yang menagih untuk kau isi.
Zaman hari ini adalah algoritma yang rumit dan liar,
mengaburkan mana yang esensi, mana yang sekadar pendar.
Anak muda, jangan biarkan dirimu menjadi konstanta yang beku,
yang hanya diam menunggu rumus nasib menemukan jalannya sendiri.
Dunia tidak sedang membutuhkan pengikut yang patuh pada arus,
ia butuh variabel baru yang berani memecah kemapanan yang karus.
Belajarlah melampaui bab-bab di buku teks yang membisu,
sebab ilmu bukan sekadar hafalan yang tersimpan di balik dahi,
tapi keberanian untuk menarik garis lurus dari titik-titik yang acak,
menjadi sebuah grafik karya yang tak mudah lapuk diinjak jarak.
Jika kelak kau merasa tersesat dalam variabel ketidakpastian,
ingatlah: simfoni terbaik justru lahir dari notasi yang saling bertabrakan.
Maka, jadilah pemahat pada batu zaman yang keras ini,
sebelum waktu menghapus namamu tanpa meninggalkan jejak kaki.
Sebab, hanya karya yang mampu mengalahkan senyapnya maut,
dan hanya mereka yang belajar gigihlah yang berhak
memegang kunci atas masa depan yang masih berkabut.
Puisi karya Suntusia, Guru SMA Negeri 1 Tenggarang Bondowoso
Editor : Sidkin