Malaikat Maut Tak Pernah Pilih Gerbong
Di rel yang masih menyimpan gema benturan
kita belajar satu hal yang tak diajarkan pengumuman stasiun
bahwa maut tidak membaca label di pintu gerbong
Ia tak berhenti pada tulisan “khusus perempuan”
Tak melambat di kursi prioritas
Tak menimbang siapa yang lebih pantas pulang lebih dulu
Sementara kita masih sibuk menggeser tubuh
memindahkan cemas dari ujung ke tengah
Seolah jarak beberapa meter bisa menawar takdir
Ada dada-dada yang diam
ditaruh di depan tanpa pernah diminta
menjadi pagar yang tak tertulis
menjadi kemungkinan yang tak disebut
dan di dalamnya, laki-laki belajar sunyi
bahwa risiko sering diwariskan seperti kebiasaan
tanpa rapat, tanpa persetujuan
Namun perempuan pun bukan kaca tipis
yang harus disimpan di tengah lemari perjalanan
Mereka pernah berdiri di reruntuhan hidup
mengangkat keluarga, menantang hari
tanpa perlindungan yang diposisikan
Lalu kita bertanya pelan
jika sistem retak
ke mana pun kita pindah tetap rapuh
Rel butuh diperbaiki
bukan sekadar penumpang yang dipindah
karena pada akhirnya
saat suara terakhir menggema di antara besi dan debu
tidak ada yang ditanya duduk di mana
Hanya ada satu sunyi yang sama
nama-nama yang tak sempat turun di tujuan
Puisi karya Fathorrozi, Penikmat sastra, tinggal di YPI. Qarnul Islam Ledokombo, pendidik di Pondok Pesantren Nurul Qarnain Sukowono Jember, dan alumnus Pascasarjana UIN KHAS Jember.
Editor : Sidkin