Sifat Ujian
Cobaan dan ujian hidup orang beriman
bukan karena Allah membencinya,
melainkan karena Allah tidak menghendaki
sang hamba menjauh dari-Nya.
Memang, ada hati-hati yang lembut
setelah dihantam badai prahara,
ada jiwa-jiwa yang tersadarkan ketika dihadapkan
oleh kehilangan orang yang dicintainya.
Bahkan ada yang baru mengenal pentingnya doa,
setelah semua pintu tertutup
hingga tak sanggup melihat setitik cahaya
agar menemukan jalan keluar.
Kadang manusia mengira nikmat hidup adalah tanda cinta,
serta mengira musibah adalah tanda kemurkaan Allah.
Padahal, keduanya merupakan panggilan yang sama
sebagai jalan menuju pintu-pintu Ilahi.
Yang satu melalui kelembutan nikmat,
sementara yang lainnya melalui kerasnya ujian.
Beruntunglah orang yang mampu menemukan Allah
sebelum datangnya rantai cobaan dan ujian hidup.
Sebab, orang yang tersadar
dan konsisten mendekat pada-Nya,
tentu akan merasakan ketenangan batin.
Sedangkan mereka yang masih berpaling dari-Nya,
kadang harus dipaksa oleh nasib-nasib getir
yang terulang kembali melalui pintu-pintu
yang semestinya berhasil ia masuki sejak dahulu.
Karya: HAFIS AZHARI, Peneliti historical memory, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.
Editor : Sidkin