Di Kandang Itu
Di kandang itu, Cong,
jelas sekali bisa kaulihat
bagaimana sapi yang tengah bunting
menjilat-jilat kotorannya sendiri,
sebab padang telah dipanen kemarau.
Moo... moo...
ia mengaung kepadaku
dengan suara yang lambat,
mengusir lalat-lalat
di lingkar kedua matanya.
Lalu ia seperti bernyanyi
di dalam sunyi yang paling sepi,
sementara perutnya yang bunting
masih menanggung berat tubuhnya.
"Tolong ambilkan rumput hari ini," katanya.
Aku tidak menjawab.
Tanganku meraba saku-saku yang kosong.
Di luar kandang,
hijau telah lebih dulu meninggalkan tanah.
"Ada seorang pengangguran,"
rintihnya lebih ngilu
dari derit kandang.
"yang rela menyemakkan waktunya,
menyerahkan segala hijau
kepada rahim yang kian lemah ini—
serupa nama-nama, tubuh, dan daging
yang kelak ingin kalian nikmati."
Aku hanya terpaku
di kandang dekat pintu.
Tanganku tersangkut
pada engsel yang patah.
Jari-jariku terjepit kandang, Cong.
Sedang sapi itu
masih menunggu
rumput hijau dariku.
Karya: Mahendra, Penulis buku Renung Pedoman Akal, Di Rahim Renung, Anestasi Rasa, dan Kekasih Air Mata.
Editor : Sidkin