Tumbal Pasugihan
Pemilik restoran itu mendatangi Gunung Kawi,
untuk bertransaksi dengan makhluk misterius
agar restorannya ramai dikunjungi para pelanggan.
Ia menjadikan karyawan Fulan sebagai tumbal pasugihan.
Tak lama kemudian para pelanggan baru berdatangan,
omset restorannya kian meningkat drastis,
dan istrinya yang cantik terheran-heran
ketika penghasilannya kian meroket dari hari ke hari.
Namun, di saat waktu yang ditentukan,
tampaknya tak terjadi apa-apa pada diri Fulan.
Ia tetap masuk kerja seperti biasa,
juga melaksanakan solat di saat waktu zuhur tiba.
Sang pemilik restoran kembali mendatangi Gunung Kawi
hendak menanyakan pada seorang Kuncen
tentang kabar karyawannya yang tetap sehat walafiat.
Sepulang dari Gunung Kawi,
mobil yang dikendarainya terjun ke sungai
setelah menabrak tiang listrik.
Si pemilik restoran tewas di tempat,
mobil mewahnya ringsek dan hancur seketika.
Sampai kemudian, seusai masa iddah,
karyawan Fulan menikahi janda mendiang yang cantik
sambil mengajarinya ilmu agama dan makrifat
yang mengharamkan segala bentuk takhayul
dan penyembahan terhadap berhala.
Karya Ahmad Rafiuddin, Pengasuh Pesantren Tebuireng 09, Banten, penulis buku Marwah Pesantren, juga penulis esai dan puisi di berbagai media nasional luring dan daring
Editor : Yulio Faruq Akhmadi