Dinding yang Berpeluh
Tak pernah terpikir olehku, tentang tangan yang menggenggam, tentang tubuh yang berpeluk erat, tentang keringat yang menetes deras.
Baru saja aku melewati malam yang panjang. Tak ada keriuhan, hanya menyisakan dengkuran yang bisa jadi kuanggap seperti pujangga. Terasa memabukkan-
Atap yang ku kira dingin, ternyata setelahku nikmati, hangat mengalir dalam tubuhku, atap itu tak berembun, ia hanya menyimpan sunyi yang perlahan mengajarkanku tentang kehangatan.
Sedang dinding menjadi saksi bisu
Di mana tersirat oleh waktu, di mana tersurat oleh rayuan kalbu....
Retorikaku tetap bersama peluh dinding itu..
Puisi Karya Novia Ulfa Isnaini
Editor : Sidkin