Sebatang Sore, Puisi Karya M Taofik

Sidkin • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi puisi sebatang sore. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi puisi sebatang sore. (Ijal/AI/Halojember)

 

Sebatang Sore

Tembakau digulung perlahan,
di antara jari dan sisa cahaya.
Aromanya tinggal di telapak,
seperti sesuatu yang tak sempat diberi nama.

Sebatang selesai sebelum petang,
sebatang lagi menyusul
dari daun-daun yang dikeringkan musim.

Di atas meja,
tak ada yang bertanya
berapa lama sebuah tangan
harus menunggu nyala.

 

Karya: Muhammad Taofik, Mahasiswa Sejarah UIN  KHAS Jember asal Probolinggo

Editor : Sidkin
tangan puisi Sore Istri dari Masa Depan tembakau