Bianca, Puisi Karya Achmad Raidi

Sidkin • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)

 

Bianca

Sore tak memberimu lengang
apalagi tenang
gugur-gugur dedaunan 
dari ranting rambutmu
yang tampak senja
pamit dengan tiba-tiba tanpa kata
dan “Matahari Tumpah Di Ujung Lembah”
merasuk kepiluan dari puisi sahabatku
by rose
tentang sunyimu, kekasihku.

Angin berhembus rapuh
mengecup kening jendela kamarmu
begitu pucat bibir itu
menahan rindu yang habis terkikis
oleh dusta
gemetaran menggigil pilu,

Hari ini anakku
menatap pohon mahoni di alun-alun
saling berkejaran memungut 
kenangan luka,
juga air mata duka

__Ibu,
nanti malam aku akan
mengambil bulan untukmu ibu
dan satu bintang untuk kuselipkan
di kerudung ibu, bisiknya lirih
 menusuk gendang telinga

Dan aku hanya mengangguk
dengan menahan senyum yang agak basi

Aku tertunduk
menyobek lembaran-lembaran perpisahan
yang tinggal siluet wajahmu
di punggung bianca.


Karya Achmad Raidi, Advokat, Ketua Lembaga Bantuan Beasiswa Indonesia (LBBI) Pondok Pesantren AL-Ishlah Jenggawah Jember.

Editor : Sidkin
bianca kekasihku puisi ibu