DI Bondowoso, ada satu kesenian rakyat yang menarik. Namanya Pojhien, tradisi akrobat bambu yang memadukan keberanian, syair pujian, hingga ritual spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Pojhien menjadi salah satu kesenian tradisional khas Bondowoso yang sarat nilai budaya dan spiritual. Meski kerap disebut tarian, kesenian ini sejatinya merupakan pertunjukan ritual akrobatik yang dipadukan dengan lantunan syair, doa, dan musikalisasi.
Plt Kabid Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Hery Kusdaryanto mengatakan, nama Pojhien berasal dari bahasa Madura yang berarti puji-pujian atau berbalas syair.
Filosofinya erat dengan ungkapan syukur kepada Allah SWT, permohonan keselamatan, hingga harapan akan kemakmuran desa.
Baca Juga: Pemkab Bondowoso Kebut Pembangunan Jalan Paving di 59 Titik, Ini Detailnya
Ciri paling menonjol dari kesenian ini adalah atraksi ekstrem, seorang pemain yang memanjat batang bambu tinggi hingga ke pucuk.
“Di atas bambu, pemain melakukan berbagai gerakan akrobatik menegangkan dengan tumpuan tangan atau kaki,” imbuhnya.
Atraksi tersebut melambangkan keberanian, ketangkasan, sekaligus kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta.
Selama pertunjukan berlangsung, para pangojjhar atau pelantun syair membawakan puji-pujian, sholawat, petuah, hingga doa-doa bernuansa religius.
Baca Juga: Asal Mula Seni Tari Lahbako yang Menjadi Ciri Khas Jember
Musik pengiring biasanya menggunakan rebana, tongtong, atau bahkan hanya irama vokal secara a cappella.
Tak sekadar hiburan, Pojhien juga memiliki unsur ritual yang kuat. Beberapa mantra dan ucapan tertentu dipercaya masyarakat memiliki makna khusus, mulai memohon kesuburan hingga meminta hujan saat musim kemarau panjang.
Kesenian ini umumnya dimainkan oleh kelompok laki-laki yang terdiri dari pemanjat, pelantun syair atau sering disebut Pangojjhar, hingga Dhukon atau tokoh yang memimpin doa dan mantra.
“Para pemain biasanya mengenakan busana adat Madura berupa baju pesa’an, celana komprang hitam, Di Bondowoso, Pojhien kerap tampil dalam tradisi selamatan desa, panen raya, khitanan, hingga ritual meminta hujan.
Baca Juga: Asik ke Bondowoso Lebih Cepat Lewat Exit Tol Prosiwangi, Kian Membuka Peluang Ekonomi Warga
Di Bondowoso, Pojhien kerap tampil dalam tradisi selamatan desa, panen raya, khitanan, hingga ritual meminta hujan. Karena itulah, bagi masyarakat setempat, Pojhien bukan hanya kesenian rakyat.
Ia adalah simbol hubungan manusia dengan alam, budaya, dan Tuhan yang terus hidup di tengah perubahan zaman. (ham/dwi)
Editor : Sidkin