BONDOWOSO, Halojember - Suara-suara lantang tanpa iringan alat musik itu menggema berirama. Sekelompok pria berdiri membentuk lingkaran, melantunkan doa sembari menggerakkan tubuh secara serempak.
Di sela pertunjukan, seorang pemain tampak memanjat batang bambu sambil menari dengan lincah. Itulah Pojhien, kesenian tradisional khas Bondowoso yang hingga kini masih bertahan di tengah derasnya arus modernisasi.
Kesenian ini diperkirakan telah hadir sejak lama. Sejumlah sumber menyebut Pojhien mulai dikembangkan dan dikemas sebagai kesenian tradisional modern sekitar tahun 1920-an. Ada pula yang menyebut kesenian tersebut kembali dikembangkan pada 2007.
Baca Juga: Pojhien, Kesenian Ekstrem yang Menyatukan Akrobat dan Doa di Bondowoso
Hingga sekarang, tradisi itu masih hidup dan dilestarikan di sejumlah desa di Bondowoso, seperti Prajekan Kidul, Karang Sengon, hingga Sukorejo. Bagi masyarakat setempat, Pojhien bukan sekadar tontonan. Kesenian ini diyakini sebagai bentuk tolak bala untuk menghindarkan masyarakat dari berbagai hal buruk, termasuk penyakit ta’un atau wabah mematikan.
Nilai religius itu tampak kuat dalam setiap pertunjukan. Para pemain melantunkan doa-doa dan irama hanya melalui suara manusia, tanpa bantuan alat musik.
Dalam satu pementasan, biasanya terdapat 20 hingga 25 pemain. Mereka saling bersahutan menciptakan ritme khas yang terdengar magis dan sakral.
Baca Juga: Sejarah Kentrung Kesenian Khas Bondowoso, Bukan Sembarang Alat Musik
Di tengah pertunjukan, atraksi memanjat bambu menjadi bagian yang paling menyita perhatian penonton.
Pojhien biasanya dipentaskan pada momen tertentu, mulai Hari Besar Nasional, selamatan desa, pernikahan, hingga khitanan. Di tengah perkembangan zaman, upaya pelestarian terus dilakukan. Salah satunya melalui pengenalan Pojhien kepada generasi muda.
Belum lama ini, siswa-siswi SMPN 3 Bondowoso menampilkan tarian Pojhien di Pendopo Bondowoso. Langkah itu menjadi bagian dari upaya mengenalkan budaya lokal sejak dini.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan mengatakan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan lewat dokumentasi atau catatan sejarah. Menurut dia, budaya harus hadir dan hidup di tengah generasi muda agar tetap memiliki ruang di masa depan.
“Budaya tidak boleh hanya berhenti di museum atau buku sejarah. Budaya harus hidup di sekolah-sekolah dan dipentaskan dengan bangga oleh generasi muda,” ujarnya.
Dia menilai, mengenalkan Pojhien kepada pelajar menjadi langkah penting untuk menanamkan rasa memiliki terhadap budaya daerah.
Melalui ritme, gerakan, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, anak-anak diajak memahami akar budaya mereka sendiri.
Baca Juga: Lestarikan Seni dan Budaya Indonesia Lewat Ekskul Sekolah, Tanamkan Jiwa Kesenian Pada Siswa
“Budaya adalah identitas. Kalau budaya hilang, kita juga kehilangan jati diri. Karena itu, generasi muda harus dikenalkan dan dilibatkan langsung dalam pelestariannya,” katanya.
Menurut Gede, pelestarian juga harus dibarengi inovasi agar Pojhien tetap relevan tanpa kehilangan nilai religius dan tradisi yang menjadi ruh utamanya. Dengan cara itu, kesenian warisan leluhur tersebut tidak hanya bertahan, tetapi juga terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman.
Selain mengenalkan Pojhien kepada para siswa, Disparbudpora Bondowoso juga tengah berupaya mengusulkan tradisi tersebut untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Bahkan saat ini, sedang dilengkapi kajian dan persyaratan lain yang dibutuhkan. “Agar tetap bisa dilestarikan, serta ada legalitas bahwa budaya ini berasal dari Bondowoso,” pungkasnya. (ham/dwi)
Editor : Sidkin