Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Saat Denting Lesung Menggema, Ronjengan Hidupkan Kembali Kenangan Warga Desa di Bondowoso

Sidkin • Minggu, 7 Juni 2026 | 12:00 WIB
SEMANGAT: Para penabuh Ronjengan saat mengikuti rangkaian festival Harjabo tahun lalu. (FAQIH HUMAINI/HALO JEMBER)
SEMANGAT: Para penabuh Ronjengan saat mengikuti rangkaian festival Harjabo tahun lalu. (FAQIH HUMAINI/HALO JEMBER)

 

BONDOWOSO, Halo Jember - Denting ritmis lesung yang dipukul secara serempak menghadirkan suasana khas di pedesaan Bondowoso.

Kesenian ronjengan bukan sekadar pertunjukan musik tradisional, tetapi juga menjadi ruang nostalgia yang membangkitkan kembali kenangan masa lalu masyarakat.

Plt Kabid Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso Hery Kusdaryanto mengatakan, ronjengan memiliki nilai emosional yang kuat bagi warga desa.

Baca Juga: Pojhien, Kesenian Ekstrem yang Menyatukan Akrobat dan Doa di Bondowoso

Kesenian ini bahkan telah menjadi bagian dari perjalanan hidup masyarakat, terutama generasi yang pernah akrab dengan aktivitas menumbuk padi menggunakan lesung.

“Ini bukan hanya kesenian, tapi bagian dari memori kolektif warga, terutama ibu-ibu yang dulu akrab dengan aktivitas menumbuk padi,” katanya.

Saat dimainkan, ronjengan menghadirkan suasana kebersamaan yang begitu terasa. Irama sederhana yang dihasilkan mampu mengajak pemain maupun penonton larut dalam suasana penuh makna.

Baca Juga: Taman Lansia Barokah Bondowoso Jadi Tempat Favorit Lansia Isi Hari, dari Ngaji hingga Berkebun

Tak jarang, warga yang menyaksikan ikut bernyanyi atau sekadar tersenyum mengenang masa-masa lampau.

Keseruan semakin terasa ketika ronjengan ditampilkan dalam berbagai momentum, seperti peringatan Hari Kemerdekaan. Lagu-lagu perjuangan yang diiringi dentuman lesung menghadirkan nuansa unik yang sulit ditemukan pada musik modern.

Tak hanya itu, pada malam takbiran, ronjengan juga kerap mengiringi lantunan takbir dan salawat. Suara khas yang dihasilkan memberikan warna tersendiri dalam perayaan keagamaan masyarakat desa.

Baca Juga: Pojhien Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Milik Bondowoso, Ini Kata Disparbudpora

Hery menambahkan, ronjengan juga menjadi hiburan rakyat yang sederhana dan terjangkau.

Tanpa panggung megah maupun peralatan modern, kesenian ini mampu mengumpulkan warga dalam suasana hangat, akrab, dan penuh kegembiraan.

“Di situlah letak kekuatannya. Sederhana, tapi mampu menyatukan masyarakat,” imbuhnya.

Baca Juga: Menjemput Jejak yang Nyaris Senyap: Menghidupkan Kembali Tari Remo Sutina, Opini oleh Taufan Restuanto, Kepala Dispendik Bondowoso

Meski sempat meredup akibat derasnya arus modernisasi, ronjengan kini mulai kembali dilestarikan.

Bagi masyarakat, memainkan ronjengan bukan hanya soal mempertahankan kesenian tradisional, tetapi juga menjaga identitas budaya sekaligus merawat kenangan indah yang tetap hidup dari generasi ke generasi. (faq/dwi)

Editor : Sidkin
#berita bondowoso #Ronjengan #kesenian bondowoso #bondowoso #nostalgia