JEMBER, halojember – Semakin langkanya kunang-kunang di alam bukan sekadar perubahan pemandangan malam. Kondisi tersebut dinilai menjadi tanda menurunnya kualitas lingkungan.
Oleh karena itu, kunang-kunang dipilih sebagai simbol utama dalam Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan (Festival PEKA) 2026 yang digelar di Taman Nara Bestari, Patrang, Sabtu malam (11/7/2026).
Founder Rumah Budaya Nara Bestari Hadi Poernomo menjelaskan, kunang-kunang merupakan bioindikator alami. Ketika populasinya terus menurun, hal itu menjadi sinyal bahwa ekosistem sedang tidak baik-baik saja.
Baca Juga: Festival PEKA 2026 Digelar di Jember, Seni Budaya Jadi Cara Baru Mengajak Warga Peduli Lingkungan
"Kunang-kunang kami pilih sebagai simbol cahaya dan harapan hidup berkelanjutan. Bioindikator alam seperti kunang-kunang kini hampir punah. Itu menjadi alarm bahwa ada yang tidak sehat di lingkungan kita," ujarnya.
Karena itu, Festival PEKA tidak berhenti pada pertunjukan seni semata. Melalui berbagai aktivitas budaya, masyarakat diajak memulai gerakan menjaga lingkungan dari ruang terkecil, yakni pekarangan rumah.
Pandangan serupa disampaikan Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SMP Dinas Pendidikan Jember Rahayuningsih. Berlatar belakang pendidikan biologi, ia menjelaskan kunang-kunang merupakan indikator biologis yang menunjukkan kualitas udara dan kondisi lingkungan masih sehat.
Menurutnya, semakin sulit menemukan kunang-kunang di kawasan perkotaan menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan akibat pembangunan perlu menjadi perhatian bersama.
"Kami berharap esensi festival ini tidak berhenti sebagai perayaan seni semata, tetapi mampu memicu kesadaran kolektif masyarakat menjaga keaslian alam. Semoga lingkungan yang bersih dan sehat kembali terwujud sehingga kunang-kunang bisa marak lagi mewarnai malam hari di seluruh pelosok Jember," katanya.*
Editor : Sidkin