HALOJEMBER-Bermain mengurung pertahanan lawan menjadi gaya yang kerap diterapkan Uzbekistan dalam Piala Asia U-23 atau AFC 2024. Permainan itu mengingatkan permainan Man. City yang lebih mengoptimalkan serangan umpan pendek, satu dua atau lebih akrab tiki-taka.
Satu penyerang jangkar, yang memiliki dua opsi. Pemantul bola, hingga goal poacher atau ujung tombak tunggal dipakai Man. City dengan Erling Haaland. Cara itu pun dipakai oleh Uzbekistan.
Analisis permainan Uzbekistan dilansir dari kanal YouTube Ruang Taktik FC, Senin (29/4).
- Formasi 4-2-3-1
Dalam empat laga yang telah dijalani di kompetisi ini, anak asuh Timur Kapadze ini konsisten menggunakan formasi 4-2-3-1. Ketika menyerang/memegang bola, formasi mereka akan menjadi 4-1-2-3 atau 4-1-5. Salah satu gelandang bertahan dan gelandang serang mereka akan ikut maju ke depan, sementara kedua penyerang sayap mereka akan maju sejajar dengan striker.
- Bek Sayap yang Eksplosif
Uzbekistan memiliki dua bek sayap atau fullback yang rajin naik untuk membantu serangan. Mereka adalah Yuldhosev (fullback nomor punggung 6) dan Abdirakhmatovh (fullback kanan nomor punggung 3).
Di sisi pertahanan lawan, kedua bek ini mampu memperagakan permainan kombinasi dengan penyerang sayap dan gelandang. Selain itu, Yuldhosev juga tak hanya bisa bermain di sisi lapangan, ia juga bisa merangsek masuk ke tengah untuk menarik atau mengacaukan perhatian gelandang/bek tengah lawan.
"Fullback kiri nomor punggung 6, Yuldhosev, memegang peranan penting dalam fase bangun serangan dan menyerang di sisi kiri. Ia bisa memainkan peran inverted fullback yang akan masuk ke half-space atau tengah jika kelebaran sudah diisi oleh penyerang sayap," kata Ruang Taktik FC dalam video preview yang diunggah pada Minggu (28/4).
- Wide Overload
Salah satu taktik yang sering digunakan oleh Uzbekistan adalah menumpuk banyak pemain di salah satu sisi pertahanan lawan (wide overload). Dengan menumpuk banyak pemain di salah satu sisi, Uzbekistan jadi memiliki banyak opsi umpan dan bisa memperagakan permainkan kombinasi umpan-umpan pendek nan cepat.
Hasil dari penetapan taktik ini biasanya berbuah umpan silang (crossing) ke kotak penalti lawan. Uzbekistan juga selalu menempatkan tiga pemain di kotak penalti untuk menyambut crossing.
Selain berbuah crossing, para pemain Uzbekistan juga memiliki skill individu mumpuni. Dari sisi sayap, mereka bisa menggiring bola ke area tengah pertahanan lawan dengan melewati beberapa pemain sekaligus, sebelum melepaskan umpan berbahaya yang berpeluang untuk dikonversi menjadi gol.
Antitesis Permainan Penguasaan Bola
Permainan yang mendominasi penguasaan bola tentunya, membuat tim lebih superior. Tidak salah Uzbekistan menjadi kesebelasan yang tidak pernah kebobolan satu biji sama sekali di Piala Asia U-23 2004.
Namun, penguasaan bola juga memiliki kelemahan. Carlo Ancelotti ataupun Jose Mourinho, pun pernah mengatakan tim yang terlalu lama menguasai bola juga menjadi tim yang mudah kehilangan bola. Maka, tidak salah Carlo Ancelotti, pelatih Real Madrid pun menumbangkan Man. City di Liga Champion dengan serangan balik cepat.
Cara demikian juga dilakukan era Real Madrid yang masih dihuni BBC (Benzema, Bale, dan Cristiano Ronaldo). Serangan balik cepat dan mematikan, membuat Real Madrid kala itu dalam lima tahun, mampu memenangi tiga tropi Liga Champion atau UCL.
Uzbekistan Punya Banyak Variasi Serangan
Misalnya pada saat laga vs Vietnam di fase grup, ketika taktik wide overload Uzbekistan berhasil diredam, para pemain asuhan Timur Kapadze. Pola serangan yang awalnya penguasaan bola dengan umpan-umpan pendeknya.
Akhirnya diganti dengan pola serangan dengan lebih sering mengirim umpan terobosan ke penyerang atau umpan lambung ke belakang pertahanan lawan. Lewat skema ini, Uzbekistan mampu menghasilkan tiga gol ke gawang Vietnam.
Pergerakan Tanpa Bola
Para pemain Uzbekistan selalu aktif bergerak meskipun tidak sedang memegang bola. Pergerakan tanpa bola ini dilakukan untuk memancing pressing dari lawan, sehingga menimbulkan celah di lini pertahanan lawan yang bisa diekspos.
"Tiap pemain Indonesia harus ekstra fokus dan disiplin untuk cover ruang saat ada pemain yang tertarik dengan pergerakan tanpa bola pemain lawan," jelas Ruang Taktik.
High Press Agresif dan Man to Man Marking
Uzbekistan juga menerapkan high pressing atau menekan dengan intensitas tinggi ketika bek lawan sedang mencoba membangun serangan. Para penyerang Uzbekistan akan melakukan high pressing, sementara setiap gelandang mereka akan menjaga setiap pemain lawan di lini tengah (man to man marking).
Kombinasi high press dan man to man marking sangat menyulitkan, karena bek lawan jadi tak nyaman dalam memegang bola dan tidak memiliki opsi umpan karena setiap pemain lainnya juga dijaga ketat.
Celah di Pertahanan Uzbekistan
Meski belum pernah kebobolan, Uzbekistan juga memiliki beberapa titik kelemahan di area pertahanan mereka. Dalam beberapa momen, Vietnam bisa menembus pertahanan Uzbekistan dengan umpan terobosan yang langsung mengekspos area depan/belakang pertahanan anak asuh Timur Kapadze. Namun, cara ini kerap gagal karena akurasi umpan yang kurang baik.
Serangan balik juga menjadi cara yang bisa dimanfaatkan Timnas Indonesia untuk membobol gawang Uzbekistan, mengingat kedua bek sayap mereka rajin naik membantu serangan, sehingga pasti meninggalkan celah di sisi kiri dan kanan pertahanan mereka.
Editor : Halo Jember